Kamis, 17 Desember 2009

Ikut-ikutan...............

Saya ingin tahu kenapa sih orang merokok? Lebih tepatnya, untuk apa orang merokok? Adakah keuntungan yang bisa didapat dari merokok?

Hari ini saya terkejut karena ber-media gathering dengan kawanan (yang ternyata) adalah perokok. Di meja saya yang terdiri dari 12 orang, 7 diantaranya adalah perokok. Dan yang membuat saya ternganga2 adalah 6 diantara mereka adalah perempuan yang datang dengan tampilan bersih dan modis. Saya tidak ingin norak sih, karena waktu saya di kampus pun teman2 saya dengan gaya yang elegan juga merokok. Bahkan mereka terlihat lebih merah (bibir dan pipinya) dibanding dengan saya dan teman-teman lain yang tidak merokok. Tapi yang membuat saya terkejut adalah kepalsuannya....

Pada awalnya tidak ada yang merokok. Semuanya seperti manusia baik-baik yang haha hihi sana sini dengan cerita yang basi basi. Lama-lama pembicaraan mengering. Lalu semua diam dan memainkan BBnya. Lalu datanglah satu perempuan dan dengan santainya mengeluarkan rokoknya. Dengan cuek dia menyalakan rokok dan mulai mengisap. Tak disangka satu persatu orang-orang satu meja saya melakukan hal yang sama. Dan tak saya habis pikir, semua orang yang hadir merokok, kecuali saya dan kurang lebih 7 orang lainnya dari 20an orang yang datang.

Saya heran seribu heran karena hanya satu orang yang berinisiatif merokok. Yang lain hanya mengikuti karena sebelumnya sudah ada. Saya kembali berpikir, apakah orang-orang yang telat mengambil keputusan untuk merokok ini adalah orang-orang yang sebenarnya hanya ikut-ikutan merokok alias tidak tahu untuk apa merokok. Tidak punya tujuan ketika mengisap rokok dan menghembuskannya.

Saya mencoba mengambil sisi positif dari kegiatan merokok. Tapi sampai detik ini saya tidak menemukannya baik untuk si aktif maupun untuk si pasif. Dan saya juga tidak bisa menaruh otak saya pada cara perokok itu berpikir. Mengapa merokok? Adakah alasan yang tepat ataupun menarik sehingga ada begitu banyak perokok di negeri ini?

Apakah manusia sudah tidak mampu lagi berpikir logis sehingga ketika ada himbauan untuk tidak merokok, bahkan di bungkus rokok itu sendiri, manusia itu tidak mau mendengar, tidak memedulikannya?

Kembali merunut ke awal mula ketika memutuskan untuk merokok. Jika dari awal mereka tidak tahu untuk apa merokok sampai kapanpun mereka tidak akan tahu apa manfaatnya merokok. Jika dari awal mereka hanya ikut-ikutan untuk merokok sampai kapanpun mereka tidak akan punya prinsip yang tepat untuk mempertahankan merokok ataupun memberhentikannya sebelum ada sesuatu atau seseorang yang pada awalnya mereka teladani berhenti merokok.

Rokokmu sayang, rokokmu malang

Seperti biasa tadi pagi berangkat kerja menggunakan kereta. Dengan sekilas mengambil koran dari loper langganan dan lansung masuk kereta. Baca satu demi satu artikel, tidak ada yang menarik. Apa menariknya membaca kasus Century yang sampai sekarang belum ada ujungnya? Membosankan. Info terbarunya paling hanya 2 paragraf, selebihnya info-info terdahulu. Memang benar piramida terbalik dipakai dalam penulisan berita-berita di zaman sekarang. Tapi belum sampai bagian tengah piramida saya sudah berhenti membaca...

Sampai pada berita di lembaran tengah yang mengangkat topik bea cukai rokok. Menarik apa yang ditulis oleh koran ini. Dikatakan bahwa 70% konsumen rokok Indonesia adalah masyarakat kurang mampu. Wah saya kaget setengah mati. Banyak juga ya? Saya pikir perokok kebanyakan adalah masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas. Wah ternyata salah yaa...

Lalu saya meneruskan kembali membaca berita itu. Selanjutnya dikatakan bahwa bea cukai rokok sebesar 25%, yang selama ini sudah diberlakukan, membuat industri rokok berjalan terseok-seok--terlalu mahal. Apalagi jika benar pemerintah akan menaikkannya menjadi 65%, mau jadi apa kita (industri rokok)??? Begitulah kira-kira bahasanya.

Sejenak saya berpikir. Menutup koran saya dan bertanya-tanya. Mengapa yang dipikirkan oleh produsen rokok itu adalah keuntungan? Tidakkah mereka berpikir kesejahteraan orang-orang kecil. Tidak tahukah mereka bahwa konsumen mereka yang paling besar adalah masyarakat kurang mampu? Tidak sadarkah mereka jika bea cukai tidak dinaikkan para produsen rokok ini sedang membunuh secara perlahan masyarakat kurang mampu ini? Bukankah 70% orang kurang mampu tersebut adalah orang-orang yang tidak mampu membayar mahal urusan kesehatan?

Saya tidak tahu apa tujuan pemerintah menaikkan bea cukai rokok menjadi 65%. Tapi yang saya bisa pahami bahwa pemerintah sedang melindungi kesehatan penduduknya. Jika rokok, yang disebut dalam tiap bungkusnya dapat menyebabkan kanker, gangguan kehamilan dan janin, impotensi, serangan jantung, dsb, dikenakan harga yang murah, saya pikir Indonesia akan menjadi bangsa penyakitan...

Saya hanya berpikir dengan dinaikkannya bea cukai rokok menjadi 65% itu dapat membuat masyarakat kurang mampu tadi tidak menambah penyakit dalam tubuhnya. Mereka sudah sulit dan tidak mendapatkan fasilitas hidup sehat. Apalagi jika ditambah dengan kemudahan untuk menambah penyakit dalam hidup mereka dengan harga rokok yang murah. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itu kalimat yang tepat bagi mereka.

Menurut saya masyarakat kurang mampu masih sulit untuk mengerti tentang hal-hal yang sifatnya bisa mengurangi kesulitan mereka. Mau gampangnya saja. Maksud saya seperti pemberian BLT. Seharusnya BLT itu digunakan oleh mereka untuk modal usaha, ditabung, beli bahan pokok makanan, atau biaya sekolah anak . Tapi yang terjadi malah dibelikan HP ataupun barang2 lainnya yang sebenarnya tidak begitu penting. Ya, masyarakat kurang mampu memang agak identik dengan kurang kreatif dan kurang pikir panjang. Saya katakan agak karena tidak semuanya seperti itu. Maka bagi mereka yang kurang kreatif haruslah diberikan treatment khusus yang sedikit lebih keras seperti tidak diberikan BLT sama sekali atau dipekerjakan terlebih dahulu baru dilepas dan diberikan BLT untuk memiliki usaha sendiri.

Nah sama halnya dengan rokok. Bagi mereka yang kurang kreatif dengan dinaikkannya harga rokok itu sama dengan pengekangan kebebasan pribadi. Tapi bagi yang lebih kreatif, mungkin, adalah cara terbaik untuk melepaskan mereka dari ketergantungan merokok. Nah kembali lagi kepada tiap perokok, mau bebas sementara tapi tubuh rusak selamanya atau terkekang sementara tapi tubuh lebih sehat kedepannya?

Bukankah yang repot adalah pemerintah yang notabene harus memberikan keringanan membayar biaya rumah sakit bagi mereka?

Jumat, 06 November 2009

dari seorang teman...

KASIH dibentuk bukan saat kita ada di tempat yang penuh perhatian..
tapi di tempat yang ada penolakan...

PENGHARAPAN dibentuk bukan saat kita ada di dalam satu kepastian, tapi di dalam keraguan.

IMAN dibentuk bukan saat kita di dalam sejahtera, tetapi di dalam penderitaan...

Kamis, 05 November 2009

Lagak si Budak Jalanan...Pelajaran tentang pengharapan

2 minggu terakhir terpaksa menggunakan bis kopaja untuk mencapai tempat kerja. dulu juga pernah sih cuman gak terlalu meratiin gimana lagaknya si para petarung jalanan itu.

Yap, si supir dan kernet bis kopaja.

Mereka emang terlihat ugal-ugalan. Si supir bawa bis-nya gak pake etika. Si supir mulutnya yang gak beretika. 2'2nya emang perlu sekolah mengemudi. Dan sekolah mengemudi perlu menambah kurikulum etika mengendarai kendaraan. haha!

Anyway, kalo diperati-peratiin, mereka adalah contoh kerja tim yang baik.
1. Kalau lagi macet, si supir teriak ke kernet. Bertanya macetnya separah apa. Si kernet ngeliatin dan dia jadi penentu bagi supir untuk cari jalan lain atau tetep bertahan di jalur tersebut. --> kerjasama untuk mengantar penumpang lebih cepat daripada terjebak macet
2. Kalau penumpang ada yang mo turun, si kernet ngetok2in duit receh ke kaca, either ke besi gantungan tangan, untuk ngasih kode berenti ke si supir. --> kerjasama supaya penumpang turun tepat di tempat yang dimintanya
3. Kalau bis-nya error di tanjakan, si kernet yang lari2 nyari batu gede untuk nahan itu mobil dan si supir berusaha meng-gas di gigi 1 untuk tancap di tanjakan --> kerjasama biar nyawa orang gak melayang

Intinya tiap pekerjaan gak bisa dikerjain sendirian. We need partner. Kalaupun pekerjaan kita kesannya bisa dikerjakan oleh diri sendiri, tapi tetep butuh orang lain untuk makin memperindahnya. Dan mereka punya tujuan. Mereka punya visi.

Pun bangsa ini butuh orang2 yang bekerja sama untuk membangun negeri. Kita butuh orang yang membangun demi keindahan bangsa. Demi keindahan negeri. Bukan untuk diri sendiri. Lihat saja si budak jalanan itu. Mereka bekerja demi orang2 yang memakai jasa mereka, bukan untuk diri mereka. Mereka mengemudi dan mengerneti (sori, gak ada istilah yang pas!) agar penumpang sampai tujuan. Itu intinya: agar penumpang sampai tujuan. That's their vission.

Seandainya setiap pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini punya visi, alangkah bahagianya orang2 yang perlu ditolong itu. Dan seandainya setiap pemimpin dan calon pemimpin itu mau untuk bekerja sama untuk mewujudkan visi, betapa kayanya negeri ini.

Pengharapan jika bisa dilihat, namanya bukan pengharapan. Tapi pengharapan adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat sehingga kita mau menanti-nantikannya dengan ketekunan. Masih tetep yakin bangsa ini punya orang2 yang punya visi untuk bangun bangsa, punya visi untuk rakyat, mau melayani kepentingan publik demi suatu pengharapan bahwa kebangkitan besar ada bagi bangsa ini.


...Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun... Roma 8:24-25

Menanti Datangnya 17.00 WIB

kaki sudah menahan hentakannya untuk berjalan.

mata sudah menahan sinarnya untuk berbinar.

bibir sudah mengatup sekian lama dan ingin melepaskan kekangnya.

otot sudah menggebuk2 tulang supaya bergerak!

hai matahari, cepatlah berputar.

*menanti jam 17.00*.

Gorengan Ikan Tuna

Kenapa judulnya harus gorengan ikan tuna?
Ya semau saya dong, haha!
Bukan begitu..Karena seingat saya sewaktu belajar bahasa di sekolah dulu, ada istilah DM & MD a.k.a diterangkan-menerangkan atau menerangkan diterangkan. Nah, beranjak dari situ, penekanan saya bukan pada hasilnya, yaitu ikan tuna goreng tapi kegiatannya, yaitu menggorengnya.

Ahh, kelamaan. Intinya saya mo bikin judul yang gak biasa. Walopun ini biasa aja. haha! Mau lo apa sih de???

Yahh, waktu itu saya menggoreng 4 buah ikan tuna, untuk santap siang. Saya memasukkannya bersamaan. Tapi yang mengherankan, matengnya tidak bersamaan. Hehe!
Tiba2 langsung kepikiran aja, mungkin pun kita menjadi seseorang yang matang butuh waktu yang berbeda-beda. Seperti ikan-ikan tuna tadi. Walaupun 'dicemplunginnya' barengan, mungkin matengnya beda-beda.

Menarik bahwa si ikan tuna digoreng supaya matang. Lalu manusia diapain ya supaya matang? Bisa saja minyaknya adalah tantangan, kegagalan, ketidaksesuaian keinginan kita dengan Gusti Allah, kesedihan, musuh, dan semuanya. Lalu penggorengannya bisa saja sekolah, kampus, kantor, dengan teman se-gank, dll. Intinya ternyata manusia juga digoreng agar matang. Agar siap di-'nikmati' oleh sang 'penikmat', siapapun itu.

Dan penikmat itu bisa siapapun juga. Bisa saja dia calon suami/istrimu. Bisa saja dia calon bosmu. Bisa saja dia calon penantangmu, dll.

Dan yang pasti, 'penikmat' itu adalah Tuhanmu.

Ya, Dia mengingini kita menjadi matang dengan segala minyak dan penggorengan yang sudah Dia sediakan. Tujuannya satu, agar hatiNya bersuka. Ya, apalagi yang diminta jika bukan kita menyukakan hatiNya? Tidak ada. Tugas kita hanyalah bertahan dalam minyak kita masing2 dan penggorengannya. Sip itu dia!

Udah ah...
Udah ketauan gue ngerjain yang nggak2 pas jam kerja!
Hehe ;) .. jangan ditiru!
C U Next!

The Battle is The Lord's...(1 Sam 17)

Memulai dunia ini

Salam!

Yah, sebenarnya sih gak baru-baru amat make blog. Cuman males aja nulisnya. Berhubung akses internet dilarang di rumah maupun di kantor. Haha! Alasan saja! Intinya, saya mau kembali menulis! Apapun itu.