Baru aja selesai ndengerin lagu find us faithful. Mau meraung-raung rasanya. Kenangan perjalanan dalam mempersiapkan RK kembali muncul. Mengalami masa bergumul untuk ikut melayani atau tidak, mengalami keresahan soal penghidupan, soal kecukupan pribadi, soal kecukupan atas apa-apa aja yang dibutuhin di retreat ini, dan lainnya. Gak ada satu pun hal yang membuat gue sedemikian rupa kalang kabut kecuali saat bernyanyi lagu ini…
Orang-orang yang kita perjuangkan hadir dan begitu menikmati Allah dalam pelayanan ini. Siapakah kita sehingga begitu banyak orang menikmati harumnya Allah lewat kita? Nyaris 8 bulan yang lalu kita bukan siapa-siapa untuk retreat ini. Namun sekarang kita menjadi bagian dalam sejarah hidup kurang lebih 370 peserta. Mereka mengenang retreat ini, mereka mengenang kita, dan yang terutama mereka mengenang kebaikan Allah melalui kita…
Apakah kita harus memegahkan diri? Tentu tidak, tapi mari bersyukur karena Allah memakai kita untuk makin mengharumkan namaNya. Kita hanyalah pendosa yang telah Dia selamatkan dan layakkan untuk melayani. Perjalanan yang dimulai 8 bulan lalu (dan yang telah berakhir 1,5 bulan yang lalu) hanyalah bagian dari perjalanan hidup kita ke depan. Perjalanan kita masih panjang. Jangan berhenti sampai di sini kawan. Jangan kiranya lagu ini berhenti kita nyanyikan di RK kemarin. Tapi mari nyanyikan ini di setiap kesempatan.
Jadikan setiap bangsa muridNya.
Para pendahulu kita telah memberikan kita teladan dan kita adalah teladan bagi generasi selanjutnya. Perjuangan 6 bulan yang disertai dengan keringat dan air mata akan membuahkan hasil. Apa yang telah kita kerjakan gak akan percuma… God is in us!
We're pilgrims on the journey of the narrow road
And those who've gone before us line the way
Cheering on the faithful, encouraging the weary
Their lives a stirring testament to God's sustaining grace
Surrounded by so great a cloud of witnesses
Let us run the race not only for the prize
But as those who've gone before us
Let us leave to those behind us
The heritage of faithfulness passed on through godly lives
After all our hopes and dreams have come and gone
And our children sift though all we've left behind
May the clues that they discover and the memories they uncover
Become the light that leads them to the road we each must find
Oh may all who come behind us find us faithful
May the fire of our devotion light their way
May the footprints that we leave lead them to believe
And the lives we live inspire them to obey
Oh may all who come behind us find us faithful
Rabu, 24 Maret 2010
Senin, 22 Maret 2010
Allah Tidak Pernah Berhenti Bekerja (THE MOST MEMORABLE PART 3)

Jika harus berkata Tuhan itu bekerja, kita semua bisa langsung berkata, ”ya Tuhan itu bekerja.” Setiap bibir bisa mengeluarkan kata seperti itu dan setiap lidah bisa bergerak mengucapkannya. Tapi tentu tidak akan sama bagi mereka yang benar-benar mengalami kebenaran atas kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Ucapan itu tidak hanya sekadar ucapan semata karena Alkitab, tokoh-tokoh gereja, dan para Pendeta menceritakan hal itu. Ucapan itu adalah kesaksian hidup. Seperti halnya apa yang kami alami dalam kepanitiaan Retreat Koordinator XI.
Perjalanan panjang ini berawal dari kegelisahan para pelayan mahasiswa atas pergeseran kondisi yang sedang terjadi di kampus-kampus. Dan muncullah satu nama yang ditugaskan untuk mengusahakannya. Tapi tentunya satu pasang tangan tidakkan mungkin mengerjakan semuanya. Tuhan sendiri bahkan berkata tidak baik jika manusia itu seorang diri saja. Maka dari itu dia pun dianugerahkan kegelisahan untuk mendoakan orang-orang yang tepat untuk menjadi penolong dan ditolong dalam satu kepanitiaan.
Berbulan-bulan orang ini mendoakan nama-nama tersebut. Ada yang mundur dalam pergumulannya. Tapi ada juga yang akhirnya mendapatkan peneguhan untuk ikut serta dalam pelayanan ini. Dan di waktu yang tepat, Allah sediakan 19 orang yang akan menjadi penolong satu sama lain selama 6 bulan ke depan. 20 orang telah siap sedia melayani. Mereka berasal dari kampus yang berbeda, dari kondisi kampus yang beragam, dan dengan karakter yang luar biasa unik. Yang lebih gilanya adalah 50% panitia ini adalah lulusan baru yang belum bekerja. Menggelikan tentunya ada orang yang berani ambil resiko untuk mengerjakan ini dan itu sedangkan status mereka adalah penganggur. Tapi mereka berani maju untuk menjalankan kerinduan hati Allah yang ditaruhNya dalam hati masing-masing panitia.
Perjalanan dimulai dengan membangun pemahaman akan ladang pelayanan, akan apa yang dikerjakan, akan apa yang diimpikan. Ada perseteruan, ada cekcok sana sini, ada ketidakmengertian, ada ocehan luar yang menekan, ada ini, ada itu. Namun makin hari Allah persatukan 20 orang ini. Allah yang menolong kami untuk saling menolong dan merendahkan hati. Makin mengertilah kami bahwa benar Allah yang memanggil kami untuk melayani. Bulan demi bulan kami merajut kesehatian, membangun keyakinan pada Allah bahwa retreat ini memang Allah sendiri yang inginkan, dan berjalan dalam iman atas ketidakpastian dalam segala perencanaan kami sebagai manusia.
Hingga akhirnya tiba saat dimana setiap seksi harus berjuang masing-masing atas jobdesc-nya. Bagaimana mungkin hanya 1 orang yang mencari kurang lebih 30 pembicara, 1 orang mencari 70 pelayan small group dan PA, dan 1 orang mencari 15 pelayan musik? Bagaimana mungkin juga 4 orang yang tidak pernah melakukan strategi bisnis, memikirkan strategi dan berjuang paling depan untuk mengumpulkan dana kurang lebih ¼ miliar? Bagaimana mungkin juga hanya 6 orang yang mencari dan meyakinkan 350 orang peserta dari seluruh Indonesia untuk meluangkan masa kuliahnya yang penting demi retreat ini? Dan bagaimana mungkin juga 2 orang mencari kebutuhan akomodasi, 3 orang berjuang paling depan dalam urusan doa, dan 2 orang yang memikirkan semuanya? Jika kami mengandalkan kekuatan kami sendiri, kami adalah orang yang paling malang.
Pembicara berdatangan, pelayan small group dan PA memberikan diri, serta pelayan musik dan pujian mengomitmenkan waktu yang panjang untuk berlatih. Tiap-tiap minggu selalu ada konfirmasi atas kepastian peserta untuk ikut atau tidak. Tiap-tiap hari dana kami terima. Tiap-tiap jam doa dinaikkan. Tidak hentinya kami bersyukur, berdoa, dan saling menguatkan di tiap hari minggu selama 6 bulan berturut-turut, baik dalam rapat-rapat seksi maupun pertemuan pleno panitia. Waktu istirahat dan bercengkrama kami dengan orang-orang yang kami kasihi habis.
Pengalaman peserta luar Jakarta membuat kami terus menerus merendahkan hati. Usaha kami dan peserta Jakarta tidak seberapa dibanding mereka. Mereka berjuang luar biasa untuk dapat ikut dalam retreat ini. Mereka harus mengumpulkan biaya terbang dari pulau masing-masing dan juga membayar kontribusi. Harga yang amat mahal untuk sebuah retreat 4 hari 3 malam. Sebenarnya mereka tidak sanggup tapi mereka berjuang, meyakini bahwa Allah menghendaki mereka untuk hadir di retreat ini. Mereka berdoa. Mereka mengandalkan Allah. Hingga akhirnya donatur berdatangan, izin kampus diberikan, bahkan kampus mereka mau membiayai keberangkatan mereka.
Persiapan Hati Peserta dan Pelayan RK (PHP RK). Kami dipersiapkan Allah untuk melayani para peserta sebelum akhirnya benar-benar bertemu pada tanggal 25-28 Februari 2010, satu bulan setelahnya. Sungguh ajaib mengetahui jika doa kami dijawab saat itu juga. Jakarta hujan deras. Doa kami adalah Allah hentikan supaya kami boleh bersaksi. Supaya setiap peserta dan pelayan boleh datang dengan sukacita untuk mendengar Firman dan kesaksian kami atas doa yang Allah jawab. Dan benar hujan berhenti. Kami hanya mampu berdoa dan berharap agar Firman dan kesaksian kami di hari itu menguatkan peserta dan pelayan untuk mengandalkan doa kepada Allah yang hidup atas setiap pergumulan mereka untuk ikut RK atau tidak.
Dua puluh empat hari menjelang RK. Dana masih kurang Rp 185 juta. Pelayan small group dan PA berguguran dan pada akhirnya menjadi kurang karena kuota peserta yang fix dan waiting list membludak. Kami tidak yakin apa wisma yang kami pesan mampu menampung kehadiran kami. Dan panitia sudah pada titik puncak keletihan. Namun lagi dan lagi, Firman Tuhan, ya hanya Firman Tuhan, yang membangkitkan semangat kami. Kehadiran saudara baru yang berjumlah 19 pun sungguh menguatkan. Doa-doa pun dipanjatkan bagi kondisi kami pribadi lepas pribadi dan puasa dibawa ke hadapan Allah bagai korban yang sulung dalam persembahan keturunan Israel.
Hingga akhirnya minggu retreat itu datang. Semua panitia harap-harap cemas. Dana masih kurang. Kami masih kurang Rp 80 juta dan itu adalah 3 malam sebelumnya. Akankah kami berangkat tanpa ada uang untuk melunasi biaya akomodasi? Ah, apapun itu kami percaya Allah akan berikan! Dia yang telah memilih kami, Dia yang telah membuat 50% dari kami yang menganggur menjadi tidak menganggur, Dia yang hadirkan pelayan-pelayan, Dia yang kirimkan peserta yang membludak, Dia yang menjawab doa kami ketika kami meminta hujan dihentikan, Dia yang memberi pengertian kepada keluarga kami yang terus ditinggal dalam weekend, Dia yang... Ah, terlalu banyak! Kami memastikan diri berjalan dalam keyakinan akan pengharapan itu.
Hingga pada akhirnya kami harus terkejut dan merasa amat ngeri. Tuhan membuat gempar Ciwidey. Ciwidey longsor, merenggut korban, dan menjadi headline media massa menjelang retreat ini (dan setelahnya). Panitia panik. Para pelayan khawatir. Para peserta ketakutan. Sepuluh orang peserta mengundurkan diri. Tiga orang pelayan tidak jadi melayani. Oh Tuhan, kesusahan apa lagi yang Kau beri?? Itu teriak kami. Dalam anugerah Tuhan, kami dimampukan untuk berdoa. Memohon damai sejahtera tetap melingkupi masing-masing kami yang akan berangkat. Mengimani apa yang Daud imani: Tuhan adalah gembalaku, itu sudah cukup.
Satu malam menjelang RK, di balik mundurnya 10 peserta, 15 waiting lister menggantikannya. Satu kekhawatiran kami Tuhan ganti dengan senyuman sukacita.
Di malam yang sama, 20 orang sudah ada di wisma Aloysius untuk menyambut 400an orang yang akan datang di keesokan paginya. Namun sebelum tidur kami tidak dinyanyikan lagu pengantar tidur. Tidak juga dongeng yang indah. Hampir jam 1 pagi dan kami panitia yang hanya 5 orang ini harus berpikir keras menanggulangi satu lagi masalah baru. Jalan satu-satunya menuju wisma mengalami longsor kecil. Tidaklah mungkin 8 bus besar berjalan beriringan melewati jalan sempit itu. Jika kami memaksa, jalan itu akan benar-benar longsor dan mungkin surat kabar nasional menjadikan peristiwa ini sebagai headline susulan kondisi Ciwidey.
Kami melakukan plan A, B, C. Meminimalisir keterlambatan acara. Jika harus membayar lebih, tidak masalah bagi kami asal para peserta sampai dengan selamat dan acara tidak mundur apalagi menghilangkan sesi. Berbagai cara sudah kami pikirkan namun dalam kapasitas kami, segala cara tersebut seperti tidak mungkin. Kami berdoa. Tidak lama memang. Tapi saat itu kami berserah dan meyakini Allah yang akan bekerja bagi kami. Dan kami pergi tidur.
Di pagi hari kami mendengar kabar bahwa pihak wisma mau menyediakan 31 angkot. Angka yang pas untuk mengangkut semua peserta sekali jalan dan acara tidak perlu mundur. Ah, satu lagi kekhawatiran kami Kau jawab, Tuhan.
Hingga saatnya telah tiba. Satu persatu peserta masuk ke aula besar. Empat belas kota dan 450 orang peserta datang. Hati kami rasanya seperti ingin meledak saking gembiranya melihat orang-orang yang kami doakan berbulan-bulan datang untuk kami layani dan mendengar kerinduan hati Allah yang telah kami alami pertama-tama sebelum mereka. Rasanya seperti mimpi.
Dalam 4 hari 3 malam itu kami menikmati Allah hadir di antara kami. Allah sendiri yang menelanjangi kami yang berpakaian dusta dan Dia sendiri yang memakaikan dan melayakkan kami memakai pakaian kebenaran yang mana kami tak layak untuk memakainya. Allah sendiri yang membuat kami gelisah terhadap kondisi kampus dan bangsa kami. Yang membuat kami berduka dan berlutut di hadapanNya untuk berdoa dan memohon pengampunan. Allah sendiri yang membuat kami tidak hanya berdoa tapi menjadi jawaban doa. Kami digerakkan untuk memperjuangkan visi Allah lewat bidang studi kami dan lewat pelayanan kami di kampus, lewat pelayanan pemuridan.
Selama 4 hari 3 malam Firman Tuhan terus diberitakan, puji-pujian dinaikkan, dan doa-doa diteriakkan. Jiwa-jiwa yang hancur dipulihkan, komitmen-komitmen baru kembali diucapkan, api semangat melayani kembali dikobarkan. Pergumulan tiap kampus terjawab dan dimotivasi kembali untuk memperjuangkan kesatuan. Setiap peserta amat menikmati setiap momen kesatuan. Tidak, tidak hanya peserta. Pelayan, pembicara, dan panitia mengalaminya juga. Dan kami panitia tidak hentinya bersyukur karena pembayaran wisma tertutupi dalam waktu semalam untuk jumlah Rp 30 juta... Sungguh tidak ada seorang pun dari kami yang bisa menyangkali keberadaan Allah. Sungguh, Dia hidup!
Dan akhirnya para peserta pun diutus sambil berpegang pada harapan baru dalam memperjuangkan kondisi kampusnya berjalan ke arah yang lebih baik. Doa kami panitia adalah kampus-kampus tempat kami pernah dibina, melayani, dan mengalami pengutusan, tetap Allah pelihara lewat kehadiran para pemimpin ini. Doa kami juga adalah mahasiswa kristen menyerahkan hidupnya untuk dipakai Allah dalam karyaNya bagi negeri ini. Doa kami juga adalah agar Kristus menjadi satu-satunya Tuhan, teladan, dan gembala yang terutama bagi setiap mereka yang dibina dalam retreat ini. Doa itu pun ditujukan untuk kami yang dengan jelas melihat pekerjaan tangan Allah. Tiada letihnya Dia menopang. Tiada habisnya Dia mengasihi. Tiada hentinya Dia bekerja. Dia telah, masih, dan akan terus bekerja.
Inilah kesaksian kami. Hanya berupa cerita memang, tapi kami ber-20 sadar kami telah didewasakan dan dianugerahkan keberanian untuk tetap setia kepada Allah yang hidup. Cerita kami boleh berlalu, tapi tidak untuk ceritaNya...
We're pilgrims on the journey of the narrow road
And those who've gone before us line the way
Cheering on the faithful, encouraging the weary
Their lives a stirring testament to God's sustaining grace
Surrounded by so great a cloud of witnesses
Let us run the race not only for the prize
But as those who've gone before us
Let us leave to those behind us
The heritage of faithfulness passed on through godly lives
After all our hopes and dreams have come and gone
And our children sift though all we've left behind
May the clues that they discover and the memories they uncover
Become the light that leads them to the road we each must find
Oh may all who come behind us find us faithful
May the fire of our devotion light their way
May the footprints that we leave lead them to believe
And the lives we live inspire them to obey
~ Pur, Olla, Yani, Grace, Kawas, Dea, Jerri, Anto, Aris, Julinar, Helen, Eva, Medi, Kia, Oci, Leo Ginting, Leo Manik, Christina, Mimi, Caterin ~
Senin, 08 Maret 2010
THE MOST MEMORABLE (Part 2)
Desember-Januari
Hanya sedikit waktu kita bisa ketemuan. Semuanya sibuk. CO sana/i. Ikut persiapan PA sana/i. Follow up sana/i. Cari dana sana/i. Dana yang dibutuhin itu 1/4 miliar. Tapi yang udah kekumpul bahkan gak sampe 1/4 dari 1/4 miliar itu. Herannya gak ada yang panik. Semuanya sangat yakin dana itu terkumpul. Padahal waktu menunjukkan tinggal 2 bulan lagi. Darimanee oom 200 juta??? Makanan2 kecil di jual di sela-sela rapat. Jaim ditagih di setiap tatap muka. Muka-muka mulai terlihat letih karena berpikir, karena ini blom beres, ini masih kurang, ini masih blm dipikirin.
Januari, deadline dimana-mana!!! KAWAS KENA CACAR, HAHAHAHAH!!
Setiap orang sudah makin menyadari waktunya tinggal sedikit. Segala persiapan kembali diingatkan. Pelayan sudah mulai bersiap. PPA masih kurang! Cari terus. Jumlah peserta masih dalam tahap normal, bahkan terus dicari biar memenuhi kuota. Dana blom menunjukkan kemajuan signifikan. Tapi semangat dan sukacita terus menerus ada di tiap panitia. PHP RK adalah pembuktian mampukah kita bekerja sama nantinya untuk masa 4 hari 3 malam?? Rasanya PHP RK adalah dejavu-nya moment 4 hari 3 malam bagi sebagian orang. Dea dengan wartanya. Sie danus dengan keterampilannya melayani pembeli. Sie peserta dengan ketelitiannya melayani keluhan peserta. Sie perlap dengan kesigapannya urus teknis. Pulang PHP cukup mengesankan dan menggelikan bagi gw, hihihiiii.... :D
Februari
H-28: baiklah peserta masih sgini. Brarti cukup ya PPAnya sgini??? Pembicara udah bisa ya disuruh kirim materi2nya untuk buku acara.
H-21: BUKU ACARA BLOM BERES!!!! PPA ternyata kurang!! PPA ngundurin diri!! PPA banyak yg blm persiapan!! PESERTA MEMBLUDAK!!! Dana masih kurang 180an juta!! Mannnn, apa2an ini??!!!
H-14: tim musik 1 kukasih nilai 8, tim 2, 7, tim 3.....6. aaaaahhhh!!! Ada apa ini ada apa ini??? Pembicara gak konsisten dengan janji. Janji mau kirim tanggal segini, jadinya tanggal segitu. Layout buku acara sudah lumayan. Tinggal tunggu mereka aja inih buat dimasukkin ke buku acara!!
H-7: buku acara hampir jadi. Tinggal periksa sana/i. Ok, kamis kita masukin ya ke percetakan. Dea ketemu sama melina di perkantas pintu air. Kesimpulannya TIDAK MUNGKIN MASUK PERCETAKAN HARI KAMIS. Ok, jumat ya mel... iya kaaa ^^
H-6: pergi ke percetakan untuk nyetak nemtek dan spanduk. Bersyukur bgt uang untuk bayar nemtek dan spanduk digratisin...
H-5: ke percetakan untuk buku acara. Menanti CD bareng jerri di citraland. Naik motor di tengah rintik dan dinginnya malam. Blom sempet makan malam. Terus tancap ke percetakan. Dalam penglihatan gw buku acara sudah bisa siap cetak. Tapi bagi kawas belum. Dan kami sepakat tidak naik cetak hari itu. Pulang dari salemba jam 10 malam. Sampai rumah jam 12. blom blh tidur krn harus revisi sama melina. Page by page. Bangun lagi pagi2 benar demi buku acara. Ternyata ada artikel yang tidak diketemukan dimana2. minta dikirimin lagi. Smua orang yg berkepentingan menahan napas, menahan emosi, menahan kebenaran dirinya masing2. Demi Tuhan dan jemaat yang dikasihiNya. Dan akhirnya naik cetak juga. Fiuuuhhh.... badan sudah remuk. Panas dingin. Apa iya bisa bertahan sampai minggu depan? Tuhan, mampukan aku dan teman2ku...
H-4: pleno yang isinya rapat per-seksi. Latihan pertama find us faithful. Stiap orang ingin bicara, setiap orang ingin tahu perkembangan, stiap orang merasa perlu bertanggung jawab. Koordinasi menjadi kata yang amat bgitu sakral dan penting.
H-3: kerjaan gw bukannya kerja tapi nyusun slide lagu. Bukan suatu kebetulan editor gw lagi pergi keluar kota. akhirnya pergi ke kramat. Perjuangan di transjakarta membuahkan sendal gw putus. Haaahhh!!! Buka puasa bareng jerri. Curhat. Saling meninggikan karya tangan siapa yang lebih bagus dan rapih. Hihihiiii...
H-2: ketauan sama menejer eike kalo lagi ngerjain slide. Malu sejadi-jadinya. Gak enak. Tapi tetep dilanjutin setelah dia pergi dari meja panjang redaksi, hehe...sambil menunggu datangnya jam pulang kerja untuk menuju kramat untuk ngadoin souvenir pelayan. Di masa menunggu itu, kabar gak enak datang. CIWIDEY LONGSOR!!! Tergagap rasanya ktika seorang peserta mengonfirmasi itu. Takut. Khawatir. Ah Tuhan, apa mauMu? Berkaca-kaca dan berdoa. Masalah ini hanya akan selesai dengan doa dea. Tenangkan diri dan yakini bahwa Allah yang sudah bekerja sampai sejauh ini gak akan memberi duka yang gak bisa lw tanggung. Ya, kembali mengimani janji Allah ketika gw bergumul untuk jadi panitia atau gak... kramat.. makin ramai di malam hari. Makin tak ingin pulang. Ingin disitu saja menyelesaikannya bersama teman2ku ini. Tapi aku blom packing. Blom mandi. Blom keramas. Pulang pulang pulang.
H-1: tengah malam masih packing. Nenekku sakit. Badannya demam. Berdoa. Tersenyum bahagia karena perjuangan panjang itu sudah datang. Masa penantian itu akan terbalaskan. Aku gak sabar menunggu jam 5 (padahal itu udah jam 1). Gak konsen di kantor...semangat ini lebih besar daripada efek kopi yang gw minum ketika sedang ngantuk. Hingga akhirnya tiba saat untuk pergi ke pt.air....smua orang sudah berkumpul. Mari pergi. Dan perjalanan macet. Mungkinkah kami sampai sebelum jam 12 malam? Ternyata tidak.
bersambung.....
Hanya sedikit waktu kita bisa ketemuan. Semuanya sibuk. CO sana/i. Ikut persiapan PA sana/i. Follow up sana/i. Cari dana sana/i. Dana yang dibutuhin itu 1/4 miliar. Tapi yang udah kekumpul bahkan gak sampe 1/4 dari 1/4 miliar itu. Herannya gak ada yang panik. Semuanya sangat yakin dana itu terkumpul. Padahal waktu menunjukkan tinggal 2 bulan lagi. Darimanee oom 200 juta??? Makanan2 kecil di jual di sela-sela rapat. Jaim ditagih di setiap tatap muka. Muka-muka mulai terlihat letih karena berpikir, karena ini blom beres, ini masih kurang, ini masih blm dipikirin.
Januari, deadline dimana-mana!!! KAWAS KENA CACAR, HAHAHAHAH!!
Setiap orang sudah makin menyadari waktunya tinggal sedikit. Segala persiapan kembali diingatkan. Pelayan sudah mulai bersiap. PPA masih kurang! Cari terus. Jumlah peserta masih dalam tahap normal, bahkan terus dicari biar memenuhi kuota. Dana blom menunjukkan kemajuan signifikan. Tapi semangat dan sukacita terus menerus ada di tiap panitia. PHP RK adalah pembuktian mampukah kita bekerja sama nantinya untuk masa 4 hari 3 malam?? Rasanya PHP RK adalah dejavu-nya moment 4 hari 3 malam bagi sebagian orang. Dea dengan wartanya. Sie danus dengan keterampilannya melayani pembeli. Sie peserta dengan ketelitiannya melayani keluhan peserta. Sie perlap dengan kesigapannya urus teknis. Pulang PHP cukup mengesankan dan menggelikan bagi gw, hihihiiii.... :D
Februari
H-28: baiklah peserta masih sgini. Brarti cukup ya PPAnya sgini??? Pembicara udah bisa ya disuruh kirim materi2nya untuk buku acara.
H-21: BUKU ACARA BLOM BERES!!!! PPA ternyata kurang!! PPA ngundurin diri!! PPA banyak yg blm persiapan!! PESERTA MEMBLUDAK!!! Dana masih kurang 180an juta!! Mannnn, apa2an ini??!!!
H-14: tim musik 1 kukasih nilai 8, tim 2, 7, tim 3.....6. aaaaahhhh!!! Ada apa ini ada apa ini??? Pembicara gak konsisten dengan janji. Janji mau kirim tanggal segini, jadinya tanggal segitu. Layout buku acara sudah lumayan. Tinggal tunggu mereka aja inih buat dimasukkin ke buku acara!!
H-7: buku acara hampir jadi. Tinggal periksa sana/i. Ok, kamis kita masukin ya ke percetakan. Dea ketemu sama melina di perkantas pintu air. Kesimpulannya TIDAK MUNGKIN MASUK PERCETAKAN HARI KAMIS. Ok, jumat ya mel... iya kaaa ^^
H-6: pergi ke percetakan untuk nyetak nemtek dan spanduk. Bersyukur bgt uang untuk bayar nemtek dan spanduk digratisin...
H-5: ke percetakan untuk buku acara. Menanti CD bareng jerri di citraland. Naik motor di tengah rintik dan dinginnya malam. Blom sempet makan malam. Terus tancap ke percetakan. Dalam penglihatan gw buku acara sudah bisa siap cetak. Tapi bagi kawas belum. Dan kami sepakat tidak naik cetak hari itu. Pulang dari salemba jam 10 malam. Sampai rumah jam 12. blom blh tidur krn harus revisi sama melina. Page by page. Bangun lagi pagi2 benar demi buku acara. Ternyata ada artikel yang tidak diketemukan dimana2. minta dikirimin lagi. Smua orang yg berkepentingan menahan napas, menahan emosi, menahan kebenaran dirinya masing2. Demi Tuhan dan jemaat yang dikasihiNya. Dan akhirnya naik cetak juga. Fiuuuhhh.... badan sudah remuk. Panas dingin. Apa iya bisa bertahan sampai minggu depan? Tuhan, mampukan aku dan teman2ku...
H-4: pleno yang isinya rapat per-seksi. Latihan pertama find us faithful. Stiap orang ingin bicara, setiap orang ingin tahu perkembangan, stiap orang merasa perlu bertanggung jawab. Koordinasi menjadi kata yang amat bgitu sakral dan penting.
H-3: kerjaan gw bukannya kerja tapi nyusun slide lagu. Bukan suatu kebetulan editor gw lagi pergi keluar kota. akhirnya pergi ke kramat. Perjuangan di transjakarta membuahkan sendal gw putus. Haaahhh!!! Buka puasa bareng jerri. Curhat. Saling meninggikan karya tangan siapa yang lebih bagus dan rapih. Hihihiiii...
H-2: ketauan sama menejer eike kalo lagi ngerjain slide. Malu sejadi-jadinya. Gak enak. Tapi tetep dilanjutin setelah dia pergi dari meja panjang redaksi, hehe...sambil menunggu datangnya jam pulang kerja untuk menuju kramat untuk ngadoin souvenir pelayan. Di masa menunggu itu, kabar gak enak datang. CIWIDEY LONGSOR!!! Tergagap rasanya ktika seorang peserta mengonfirmasi itu. Takut. Khawatir. Ah Tuhan, apa mauMu? Berkaca-kaca dan berdoa. Masalah ini hanya akan selesai dengan doa dea. Tenangkan diri dan yakini bahwa Allah yang sudah bekerja sampai sejauh ini gak akan memberi duka yang gak bisa lw tanggung. Ya, kembali mengimani janji Allah ketika gw bergumul untuk jadi panitia atau gak... kramat.. makin ramai di malam hari. Makin tak ingin pulang. Ingin disitu saja menyelesaikannya bersama teman2ku ini. Tapi aku blom packing. Blom mandi. Blom keramas. Pulang pulang pulang.
H-1: tengah malam masih packing. Nenekku sakit. Badannya demam. Berdoa. Tersenyum bahagia karena perjuangan panjang itu sudah datang. Masa penantian itu akan terbalaskan. Aku gak sabar menunggu jam 5 (padahal itu udah jam 1). Gak konsen di kantor...semangat ini lebih besar daripada efek kopi yang gw minum ketika sedang ngantuk. Hingga akhirnya tiba saat untuk pergi ke pt.air....smua orang sudah berkumpul. Mari pergi. Dan perjalanan macet. Mungkinkah kami sampai sebelum jam 12 malam? Ternyata tidak.
bersambung.....
THE MOST MEMORABLE (Part 1)
Juli 2009, Jakarta, blom diwisuda, masih dalam tahap revisi skripsi
SMS 0813xxxxxxxx: Dea, ini kak poer, tolong doakan untuk jadi panitia RK sebagai sie perlap ya.
Dalam hati gw, sejak kapan gw berbakat jadi sie perlap. Baiklah, doain aja. Tiba2 dtg lagi sms dengan nomer yg sama, meralat: eh salah ding, jadi sie acara ya. Ohh... akhirnya pas lah dengan ’keterbiasaan gw’. Okok...
Agustus 2009, Kinasih, Sukabumi, lagi nunggu wisudaan
Maspur di hadapan dea, yani, dan oci: bayangkan para peserta RK XI nantinya akan seperti sebuah engsel yang berfungsi membuka dan menutup pintu dimana di belakangnya terdapat puluhan, ratusan, atau bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang butuh firman dan diubahkan, bla ble blo...
Iyeee masih didoain kok!
7-11 September 2009, Bali, sudah wisuda dan tanpa uang sepeser pun di tangan
Tuhan, apa iya gw jadi panitia? Gw lebih siap untuk jadi pelayan. Apa kek, PPA gitu. Gw kan blom kerja Tuhan. Duit dari freelance udah kepake banyak buat KPM, bakal abis juga buat bolak balik KK selama blom kerja. Gak usah aja ya Tuhan? Dan selama di Bali liburan hanya dinikmati oleh mata bukan oleh hati karena hati ini gak tenang dengan penolakan bertubi-tubi dari diri gw yang bertentangan dengan Firman yg gw dpt. Takut, khawatir gak dpt kerja smp RK selesai, gak dikasih ongkos buat rapat slama blom kerja, cap PENGANGGURAN BANYAK ACARA melekat. Emang enak apah?? Sampe akhirnya firman dalam sate2 gw di Bali mematahkan smua keraguan gw. Satu yg gue pegang: TUHAN CUKUPKAN. Gw kalah dalam pergumulan dgn Allah. Jawaban yg out of deadline itu membuahkan IYA 70%. Alhasil gak ikut rapat pertama karena masih di Bali. Dan ternyata 2 calon temen sekerja gw gak ikut jg. Satu jg baru jawab, yg satu nyaris mau nolak.
Minggu ke-3 september 2009, fisip ui, depok, masih ngganggur dan punya uang sisa2 kirim lamaran
Maspur: ini yang namanya kawas, dea.
Oh ini. Gak kenal. Gak pernah liat juga. Kayaknya bisa cocok. Terus 1 lagi siapa? Jerri. Oh itu tau lah... pmusik KPM kan? Lah ternyata si kawas jg tim kerja KPM. Ih, kagak pernah liat. Ya udah sih, toh mereka berdua tau gw, hahay!
Pertemuan pertama dilalui dengan pengenalan karakter. Dea orangnya sanguin abis was. Kau koleris. Kira2 kalo NTAR ADA HAL-HAL YANG MUNGKIN KALIAN GAK SEJALAN, kalian mau saling tegurnya sperti apa. Kawas bilang aku sih akan bilang terus terang. Dea, sama. Kawas bilang, klo ada teman kerjaku gak bisa kerjakan tugasnya, biar aku aja. Dea, sama.
September dilewati dengan pengenalan antara dea kawas dan jerri. Smuanya serba menyenangkan. Setiap pribadi di sie acara menikmati bagiannya. Sampai satu ketika maspur bertanya kepada kami apa butuh tambahan tenaga. Entah kenapa kami bertiga bilang tidak. Padahal kami tidak ditanya dalam satu kesempatan yang sama. Sampai sekarang gw masih heran akan hal ini. Hari demi hari dilalui di September ini dengan pemahaman yang benar akan Daud. Gesekan mulai kelihatan tapi tidak hanya menajamkan satu manusia saja, tapi ketiganya.
Aku setuju seperti ini. Aku tidak. Aku maunya kayak gini. Aku maunya kayak gitu, terus?? Ada yang mengalah, ada juga yang diam saja, ada yang lebih banyak menulis nulis, ada yang ngomong aja, ada yang main gitar aja. Sampai akhirnya D.A.U.D dan turunannya dipastikan menjadi hal yang akan terus diperjuangkan dalam 4 hari 3 malam itu.
Oktober, puji Tuhan dapet kerja magang walaupun cuman2 bulan. Panggilan bekerja dateng bertubi-tubi sampe2 gak tau mau pilih yang mana. Pelayanan menjadi ”penghancur” kesempatan untuk masuk MK, aaaaaaaaa!!!! Tidak tidak tidak!!!!
Survei tempat. Tidak kenal leo. Tidak kenal eva. Hanya anto, yani, ardiles, dan gilbert. Permainan jayus penghancur kebosanan saat menuju aloysius menjadi alat yg baik untuk bisa mengenal leo dan eva. Pertama kali sampai di aloysius, gak pernah kebayang kalau tempat ini akan sangat bersejarah bagi hidup gw. Tempat yang teramat luas dan memusingkan. Kenapa gak di kinasih aja sih?? 1 lawan 6 bukan perbandingan yang seimbang. Gw kalah. Dan aloysius keputusannya. Gombal asap dan LOGO RK menjadi headline bulan ini. PK juga menjadi momen kebersamaan, momen mengenali calon2 peserta—orang2 yang akan dilayani.
November, menetapkan diri bekerja di majalah travelling dengan melepaskan impian kerja di divisi news sebuah media online terbesar dan TV kabel yang sedang berkembang. Maunya apa coba??
Seseorang membuat gempar RK!! Ada yang bertanya, buat apa ada RK. Iya buat apa ada RK?? Melecut semua panitia untuk kembali merenung. Untuk kembali menangkap visi utama dari pelayanan ini. Semua hampir2 saja berang, tapi bersyukur semuanya menyikapi dengan bijak. Ah, andai saja orang itu gak ada mungkin kita gak akan berdiskusi panjang lebar dan menumpahkan apa yang kita nikmati dari kepanitiaan RK ini. Susunan acara hampir jadi. Pelayan sedang bergumul. Bahan PA sudah ada walaupun belum finish. Perjalanan masih panjang...
Desember, makin bersemangat karena potong rambutt!!!
Mari pesta dureeennn!!!!
Mari mulai jualaaann!!!
Mari kumandangkan RK dimana2!!!
Mari hubungi para pesertaaa!!!
Mari rayu para donaturrr!!!
bersambung....
SMS 0813xxxxxxxx: Dea, ini kak poer, tolong doakan untuk jadi panitia RK sebagai sie perlap ya.
Dalam hati gw, sejak kapan gw berbakat jadi sie perlap. Baiklah, doain aja. Tiba2 dtg lagi sms dengan nomer yg sama, meralat: eh salah ding, jadi sie acara ya. Ohh... akhirnya pas lah dengan ’keterbiasaan gw’. Okok...
Agustus 2009, Kinasih, Sukabumi, lagi nunggu wisudaan
Maspur di hadapan dea, yani, dan oci: bayangkan para peserta RK XI nantinya akan seperti sebuah engsel yang berfungsi membuka dan menutup pintu dimana di belakangnya terdapat puluhan, ratusan, atau bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang butuh firman dan diubahkan, bla ble blo...
Iyeee masih didoain kok!
7-11 September 2009, Bali, sudah wisuda dan tanpa uang sepeser pun di tangan
Tuhan, apa iya gw jadi panitia? Gw lebih siap untuk jadi pelayan. Apa kek, PPA gitu. Gw kan blom kerja Tuhan. Duit dari freelance udah kepake banyak buat KPM, bakal abis juga buat bolak balik KK selama blom kerja. Gak usah aja ya Tuhan? Dan selama di Bali liburan hanya dinikmati oleh mata bukan oleh hati karena hati ini gak tenang dengan penolakan bertubi-tubi dari diri gw yang bertentangan dengan Firman yg gw dpt. Takut, khawatir gak dpt kerja smp RK selesai, gak dikasih ongkos buat rapat slama blom kerja, cap PENGANGGURAN BANYAK ACARA melekat. Emang enak apah?? Sampe akhirnya firman dalam sate2 gw di Bali mematahkan smua keraguan gw. Satu yg gue pegang: TUHAN CUKUPKAN. Gw kalah dalam pergumulan dgn Allah. Jawaban yg out of deadline itu membuahkan IYA 70%. Alhasil gak ikut rapat pertama karena masih di Bali. Dan ternyata 2 calon temen sekerja gw gak ikut jg. Satu jg baru jawab, yg satu nyaris mau nolak.
Minggu ke-3 september 2009, fisip ui, depok, masih ngganggur dan punya uang sisa2 kirim lamaran
Maspur: ini yang namanya kawas, dea.
Oh ini. Gak kenal. Gak pernah liat juga. Kayaknya bisa cocok. Terus 1 lagi siapa? Jerri. Oh itu tau lah... pmusik KPM kan? Lah ternyata si kawas jg tim kerja KPM. Ih, kagak pernah liat. Ya udah sih, toh mereka berdua tau gw, hahay!
Pertemuan pertama dilalui dengan pengenalan karakter. Dea orangnya sanguin abis was. Kau koleris. Kira2 kalo NTAR ADA HAL-HAL YANG MUNGKIN KALIAN GAK SEJALAN, kalian mau saling tegurnya sperti apa. Kawas bilang aku sih akan bilang terus terang. Dea, sama. Kawas bilang, klo ada teman kerjaku gak bisa kerjakan tugasnya, biar aku aja. Dea, sama.
September dilewati dengan pengenalan antara dea kawas dan jerri. Smuanya serba menyenangkan. Setiap pribadi di sie acara menikmati bagiannya. Sampai satu ketika maspur bertanya kepada kami apa butuh tambahan tenaga. Entah kenapa kami bertiga bilang tidak. Padahal kami tidak ditanya dalam satu kesempatan yang sama. Sampai sekarang gw masih heran akan hal ini. Hari demi hari dilalui di September ini dengan pemahaman yang benar akan Daud. Gesekan mulai kelihatan tapi tidak hanya menajamkan satu manusia saja, tapi ketiganya.
Aku setuju seperti ini. Aku tidak. Aku maunya kayak gini. Aku maunya kayak gitu, terus?? Ada yang mengalah, ada juga yang diam saja, ada yang lebih banyak menulis nulis, ada yang ngomong aja, ada yang main gitar aja. Sampai akhirnya D.A.U.D dan turunannya dipastikan menjadi hal yang akan terus diperjuangkan dalam 4 hari 3 malam itu.
Oktober, puji Tuhan dapet kerja magang walaupun cuman2 bulan. Panggilan bekerja dateng bertubi-tubi sampe2 gak tau mau pilih yang mana. Pelayanan menjadi ”penghancur” kesempatan untuk masuk MK, aaaaaaaaa!!!! Tidak tidak tidak!!!!
Survei tempat. Tidak kenal leo. Tidak kenal eva. Hanya anto, yani, ardiles, dan gilbert. Permainan jayus penghancur kebosanan saat menuju aloysius menjadi alat yg baik untuk bisa mengenal leo dan eva. Pertama kali sampai di aloysius, gak pernah kebayang kalau tempat ini akan sangat bersejarah bagi hidup gw. Tempat yang teramat luas dan memusingkan. Kenapa gak di kinasih aja sih?? 1 lawan 6 bukan perbandingan yang seimbang. Gw kalah. Dan aloysius keputusannya. Gombal asap dan LOGO RK menjadi headline bulan ini. PK juga menjadi momen kebersamaan, momen mengenali calon2 peserta—orang2 yang akan dilayani.
November, menetapkan diri bekerja di majalah travelling dengan melepaskan impian kerja di divisi news sebuah media online terbesar dan TV kabel yang sedang berkembang. Maunya apa coba??
Seseorang membuat gempar RK!! Ada yang bertanya, buat apa ada RK. Iya buat apa ada RK?? Melecut semua panitia untuk kembali merenung. Untuk kembali menangkap visi utama dari pelayanan ini. Semua hampir2 saja berang, tapi bersyukur semuanya menyikapi dengan bijak. Ah, andai saja orang itu gak ada mungkin kita gak akan berdiskusi panjang lebar dan menumpahkan apa yang kita nikmati dari kepanitiaan RK ini. Susunan acara hampir jadi. Pelayan sedang bergumul. Bahan PA sudah ada walaupun belum finish. Perjalanan masih panjang...
Desember, makin bersemangat karena potong rambutt!!!
Mari pesta dureeennn!!!!
Mari mulai jualaaann!!!
Mari kumandangkan RK dimana2!!!
Mari hubungi para pesertaaa!!!
Mari rayu para donaturrr!!!
bersambung....


