Senin, 22 Maret 2010

Allah Tidak Pernah Berhenti Bekerja (THE MOST MEMORABLE PART 3)


Jika harus berkata Tuhan itu bekerja, kita semua bisa langsung berkata, ”ya Tuhan itu bekerja.” Setiap bibir bisa mengeluarkan kata seperti itu dan setiap lidah bisa bergerak mengucapkannya. Tapi tentu tidak akan sama bagi mereka yang benar-benar mengalami kebenaran atas kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Ucapan itu tidak hanya sekadar ucapan semata karena Alkitab, tokoh-tokoh gereja, dan para Pendeta menceritakan hal itu. Ucapan itu adalah kesaksian hidup. Seperti halnya apa yang kami alami dalam kepanitiaan Retreat Koordinator XI.

Perjalanan panjang ini berawal dari kegelisahan para pelayan mahasiswa atas pergeseran kondisi yang sedang terjadi di kampus-kampus. Dan muncullah satu nama yang ditugaskan untuk mengusahakannya. Tapi tentunya satu pasang tangan tidakkan mungkin mengerjakan semuanya. Tuhan sendiri bahkan berkata tidak baik jika manusia itu seorang diri saja. Maka dari itu dia pun dianugerahkan kegelisahan untuk mendoakan orang-orang yang tepat untuk menjadi penolong dan ditolong dalam satu kepanitiaan.

Berbulan-bulan orang ini mendoakan nama-nama tersebut. Ada yang mundur dalam pergumulannya. Tapi ada juga yang akhirnya mendapatkan peneguhan untuk ikut serta dalam pelayanan ini. Dan di waktu yang tepat, Allah sediakan 19 orang yang akan menjadi penolong satu sama lain selama 6 bulan ke depan. 20 orang telah siap sedia melayani. Mereka berasal dari kampus yang berbeda, dari kondisi kampus yang beragam, dan dengan karakter yang luar biasa unik. Yang lebih gilanya adalah 50% panitia ini adalah lulusan baru yang belum bekerja. Menggelikan tentunya ada orang yang berani ambil resiko untuk mengerjakan ini dan itu sedangkan status mereka adalah penganggur. Tapi mereka berani maju untuk menjalankan kerinduan hati Allah yang ditaruhNya dalam hati masing-masing panitia.

Perjalanan dimulai dengan membangun pemahaman akan ladang pelayanan, akan apa yang dikerjakan, akan apa yang diimpikan. Ada perseteruan, ada cekcok sana sini, ada ketidakmengertian, ada ocehan luar yang menekan, ada ini, ada itu. Namun makin hari Allah persatukan 20 orang ini. Allah yang menolong kami untuk saling menolong dan merendahkan hati. Makin mengertilah kami bahwa benar Allah yang memanggil kami untuk melayani. Bulan demi bulan kami merajut kesehatian, membangun keyakinan pada Allah bahwa retreat ini memang Allah sendiri yang inginkan, dan berjalan dalam iman atas ketidakpastian dalam segala perencanaan kami sebagai manusia.

Hingga akhirnya tiba saat dimana setiap seksi harus berjuang masing-masing atas jobdesc-nya. Bagaimana mungkin hanya 1 orang yang mencari kurang lebih 30 pembicara, 1 orang mencari 70 pelayan small group dan PA, dan 1 orang mencari 15 pelayan musik? Bagaimana mungkin juga 4 orang yang tidak pernah melakukan strategi bisnis, memikirkan strategi dan berjuang paling depan untuk mengumpulkan dana kurang lebih ¼ miliar? Bagaimana mungkin juga hanya 6 orang yang mencari dan meyakinkan 350 orang peserta dari seluruh Indonesia untuk meluangkan masa kuliahnya yang penting demi retreat ini? Dan bagaimana mungkin juga 2 orang mencari kebutuhan akomodasi, 3 orang berjuang paling depan dalam urusan doa, dan 2 orang yang memikirkan semuanya? Jika kami mengandalkan kekuatan kami sendiri, kami adalah orang yang paling malang.

Pembicara berdatangan, pelayan small group dan PA memberikan diri, serta pelayan musik dan pujian mengomitmenkan waktu yang panjang untuk berlatih. Tiap-tiap minggu selalu ada konfirmasi atas kepastian peserta untuk ikut atau tidak. Tiap-tiap hari dana kami terima. Tiap-tiap jam doa dinaikkan. Tidak hentinya kami bersyukur, berdoa, dan saling menguatkan di tiap hari minggu selama 6 bulan berturut-turut, baik dalam rapat-rapat seksi maupun pertemuan pleno panitia. Waktu istirahat dan bercengkrama kami dengan orang-orang yang kami kasihi habis.

Pengalaman peserta luar Jakarta membuat kami terus menerus merendahkan hati. Usaha kami dan peserta Jakarta tidak seberapa dibanding mereka. Mereka berjuang luar biasa untuk dapat ikut dalam retreat ini. Mereka harus mengumpulkan biaya terbang dari pulau masing-masing dan juga membayar kontribusi. Harga yang amat mahal untuk sebuah retreat 4 hari 3 malam. Sebenarnya mereka tidak sanggup tapi mereka berjuang, meyakini bahwa Allah menghendaki mereka untuk hadir di retreat ini. Mereka berdoa. Mereka mengandalkan Allah. Hingga akhirnya donatur berdatangan, izin kampus diberikan, bahkan kampus mereka mau membiayai keberangkatan mereka.

Persiapan Hati Peserta dan Pelayan RK (PHP RK). Kami dipersiapkan Allah untuk melayani para peserta sebelum akhirnya benar-benar bertemu pada tanggal 25-28 Februari 2010, satu bulan setelahnya. Sungguh ajaib mengetahui jika doa kami dijawab saat itu juga. Jakarta hujan deras. Doa kami adalah Allah hentikan supaya kami boleh bersaksi. Supaya setiap peserta dan pelayan boleh datang dengan sukacita untuk mendengar Firman dan kesaksian kami atas doa yang Allah jawab. Dan benar hujan berhenti. Kami hanya mampu berdoa dan berharap agar Firman dan kesaksian kami di hari itu menguatkan peserta dan pelayan untuk mengandalkan doa kepada Allah yang hidup atas setiap pergumulan mereka untuk ikut RK atau tidak.

Dua puluh empat hari menjelang RK. Dana masih kurang Rp 185 juta. Pelayan small group dan PA berguguran dan pada akhirnya menjadi kurang karena kuota peserta yang fix dan waiting list membludak. Kami tidak yakin apa wisma yang kami pesan mampu menampung kehadiran kami. Dan panitia sudah pada titik puncak keletihan. Namun lagi dan lagi, Firman Tuhan, ya hanya Firman Tuhan, yang membangkitkan semangat kami. Kehadiran saudara baru yang berjumlah 19 pun sungguh menguatkan. Doa-doa pun dipanjatkan bagi kondisi kami pribadi lepas pribadi dan puasa dibawa ke hadapan Allah bagai korban yang sulung dalam persembahan keturunan Israel.

Hingga akhirnya minggu retreat itu datang. Semua panitia harap-harap cemas. Dana masih kurang. Kami masih kurang Rp 80 juta dan itu adalah 3 malam sebelumnya. Akankah kami berangkat tanpa ada uang untuk melunasi biaya akomodasi? Ah, apapun itu kami percaya Allah akan berikan! Dia yang telah memilih kami, Dia yang telah membuat 50% dari kami yang menganggur menjadi tidak menganggur, Dia yang hadirkan pelayan-pelayan, Dia yang kirimkan peserta yang membludak, Dia yang menjawab doa kami ketika kami meminta hujan dihentikan, Dia yang memberi pengertian kepada keluarga kami yang terus ditinggal dalam weekend, Dia yang... Ah, terlalu banyak! Kami memastikan diri berjalan dalam keyakinan akan pengharapan itu.

Hingga pada akhirnya kami harus terkejut dan merasa amat ngeri. Tuhan membuat gempar Ciwidey. Ciwidey longsor, merenggut korban, dan menjadi headline media massa menjelang retreat ini (dan setelahnya). Panitia panik. Para pelayan khawatir. Para peserta ketakutan. Sepuluh orang peserta mengundurkan diri. Tiga orang pelayan tidak jadi melayani. Oh Tuhan, kesusahan apa lagi yang Kau beri?? Itu teriak kami. Dalam anugerah Tuhan, kami dimampukan untuk berdoa. Memohon damai sejahtera tetap melingkupi masing-masing kami yang akan berangkat. Mengimani apa yang Daud imani: Tuhan adalah gembalaku, itu sudah cukup.

Satu malam menjelang RK, di balik mundurnya 10 peserta, 15 waiting lister menggantikannya. Satu kekhawatiran kami Tuhan ganti dengan senyuman sukacita.

Di malam yang sama, 20 orang sudah ada di wisma Aloysius untuk menyambut 400an orang yang akan datang di keesokan paginya. Namun sebelum tidur kami tidak dinyanyikan lagu pengantar tidur. Tidak juga dongeng yang indah. Hampir jam 1 pagi dan kami panitia yang hanya 5 orang ini harus berpikir keras menanggulangi satu lagi masalah baru. Jalan satu-satunya menuju wisma mengalami longsor kecil. Tidaklah mungkin 8 bus besar berjalan beriringan melewati jalan sempit itu. Jika kami memaksa, jalan itu akan benar-benar longsor dan mungkin surat kabar nasional menjadikan peristiwa ini sebagai headline susulan kondisi Ciwidey.

Kami melakukan plan A, B, C. Meminimalisir keterlambatan acara. Jika harus membayar lebih, tidak masalah bagi kami asal para peserta sampai dengan selamat dan acara tidak mundur apalagi menghilangkan sesi. Berbagai cara sudah kami pikirkan namun dalam kapasitas kami, segala cara tersebut seperti tidak mungkin. Kami berdoa. Tidak lama memang. Tapi saat itu kami berserah dan meyakini Allah yang akan bekerja bagi kami. Dan kami pergi tidur.

Di pagi hari kami mendengar kabar bahwa pihak wisma mau menyediakan 31 angkot. Angka yang pas untuk mengangkut semua peserta sekali jalan dan acara tidak perlu mundur. Ah, satu lagi kekhawatiran kami Kau jawab, Tuhan.

Hingga saatnya telah tiba. Satu persatu peserta masuk ke aula besar. Empat belas kota dan 450 orang peserta datang. Hati kami rasanya seperti ingin meledak saking gembiranya melihat orang-orang yang kami doakan berbulan-bulan datang untuk kami layani dan mendengar kerinduan hati Allah yang telah kami alami pertama-tama sebelum mereka. Rasanya seperti mimpi.

Dalam 4 hari 3 malam itu kami menikmati Allah hadir di antara kami. Allah sendiri yang menelanjangi kami yang berpakaian dusta dan Dia sendiri yang memakaikan dan melayakkan kami memakai pakaian kebenaran yang mana kami tak layak untuk memakainya. Allah sendiri yang membuat kami gelisah terhadap kondisi kampus dan bangsa kami. Yang membuat kami berduka dan berlutut di hadapanNya untuk berdoa dan memohon pengampunan. Allah sendiri yang membuat kami tidak hanya berdoa tapi menjadi jawaban doa. Kami digerakkan untuk memperjuangkan visi Allah lewat bidang studi kami dan lewat pelayanan kami di kampus, lewat pelayanan pemuridan.

Selama 4 hari 3 malam Firman Tuhan terus diberitakan, puji-pujian dinaikkan, dan doa-doa diteriakkan. Jiwa-jiwa yang hancur dipulihkan, komitmen-komitmen baru kembali diucapkan, api semangat melayani kembali dikobarkan. Pergumulan tiap kampus terjawab dan dimotivasi kembali untuk memperjuangkan kesatuan. Setiap peserta amat menikmati setiap momen kesatuan. Tidak, tidak hanya peserta. Pelayan, pembicara, dan panitia mengalaminya juga. Dan kami panitia tidak hentinya bersyukur karena pembayaran wisma tertutupi dalam waktu semalam untuk jumlah Rp 30 juta... Sungguh tidak ada seorang pun dari kami yang bisa menyangkali keberadaan Allah. Sungguh, Dia hidup!

Dan akhirnya para peserta pun diutus sambil berpegang pada harapan baru dalam memperjuangkan kondisi kampusnya berjalan ke arah yang lebih baik. Doa kami panitia adalah kampus-kampus tempat kami pernah dibina, melayani, dan mengalami pengutusan, tetap Allah pelihara lewat kehadiran para pemimpin ini. Doa kami juga adalah mahasiswa kristen menyerahkan hidupnya untuk dipakai Allah dalam karyaNya bagi negeri ini. Doa kami juga adalah agar Kristus menjadi satu-satunya Tuhan, teladan, dan gembala yang terutama bagi setiap mereka yang dibina dalam retreat ini. Doa itu pun ditujukan untuk kami yang dengan jelas melihat pekerjaan tangan Allah. Tiada letihnya Dia menopang. Tiada habisnya Dia mengasihi. Tiada hentinya Dia bekerja. Dia telah, masih, dan akan terus bekerja.

Inilah kesaksian kami. Hanya berupa cerita memang, tapi kami ber-20 sadar kami telah didewasakan dan dianugerahkan keberanian untuk tetap setia kepada Allah yang hidup. Cerita kami boleh berlalu, tapi tidak untuk ceritaNya...

We're pilgrims on the journey of the narrow road
And those who've gone before us line the way
Cheering on the faithful, encouraging the weary
Their lives a stirring testament to God's sustaining grace

Surrounded by so great a cloud of witnesses
Let us run the race not only for the prize
But as those who've gone before us
Let us leave to those behind us
The heritage of faithfulness passed on through godly lives

After all our hopes and dreams have come and gone
And our children sift though all we've left behind
May the clues that they discover and the memories they uncover
Become the light that leads them to the road we each must find

Oh may all who come behind us find us faithful
May the fire of our devotion light their way
May the footprints that we leave lead them to believe
And the lives we live inspire them to obey



~ Pur, Olla, Yani, Grace, Kawas, Dea, Jerri, Anto, Aris, Julinar, Helen, Eva, Medi, Kia, Oci, Leo Ginting, Leo Manik, Christina, Mimi, Caterin ~

0 komentar:

Posting Komentar