dari seorang teman...
KASIH dibentuk bukan saat kita ada di tempat yang penuh perhatian..
tapi di tempat yang ada penolakan...
PENGHARAPAN dibentuk bukan saat kita ada di dalam satu kepastian, tapi di dalam keraguan.
IMAN dibentuk bukan saat kita di dalam sejahtera, tetapi di dalam penderitaan...
Jumat, 06 November 2009
Kamis, 05 November 2009
Lagak si Budak Jalanan...Pelajaran tentang pengharapan
2 minggu terakhir terpaksa menggunakan bis kopaja untuk mencapai tempat kerja. dulu juga pernah sih cuman gak terlalu meratiin gimana lagaknya si para petarung jalanan itu.
Yap, si supir dan kernet bis kopaja.
Mereka emang terlihat ugal-ugalan. Si supir bawa bis-nya gak pake etika. Si supir mulutnya yang gak beretika. 2'2nya emang perlu sekolah mengemudi. Dan sekolah mengemudi perlu menambah kurikulum etika mengendarai kendaraan. haha!
Anyway, kalo diperati-peratiin, mereka adalah contoh kerja tim yang baik.
1. Kalau lagi macet, si supir teriak ke kernet. Bertanya macetnya separah apa. Si kernet ngeliatin dan dia jadi penentu bagi supir untuk cari jalan lain atau tetep bertahan di jalur tersebut. --> kerjasama untuk mengantar penumpang lebih cepat daripada terjebak macet
2. Kalau penumpang ada yang mo turun, si kernet ngetok2in duit receh ke kaca, either ke besi gantungan tangan, untuk ngasih kode berenti ke si supir. --> kerjasama supaya penumpang turun tepat di tempat yang dimintanya
3. Kalau bis-nya error di tanjakan, si kernet yang lari2 nyari batu gede untuk nahan itu mobil dan si supir berusaha meng-gas di gigi 1 untuk tancap di tanjakan --> kerjasama biar nyawa orang gak melayang
Intinya tiap pekerjaan gak bisa dikerjain sendirian. We need partner. Kalaupun pekerjaan kita kesannya bisa dikerjakan oleh diri sendiri, tapi tetep butuh orang lain untuk makin memperindahnya. Dan mereka punya tujuan. Mereka punya visi.
Pun bangsa ini butuh orang2 yang bekerja sama untuk membangun negeri. Kita butuh orang yang membangun demi keindahan bangsa. Demi keindahan negeri. Bukan untuk diri sendiri. Lihat saja si budak jalanan itu. Mereka bekerja demi orang2 yang memakai jasa mereka, bukan untuk diri mereka. Mereka mengemudi dan mengerneti (sori, gak ada istilah yang pas!) agar penumpang sampai tujuan. Itu intinya: agar penumpang sampai tujuan. That's their vission.
Seandainya setiap pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini punya visi, alangkah bahagianya orang2 yang perlu ditolong itu. Dan seandainya setiap pemimpin dan calon pemimpin itu mau untuk bekerja sama untuk mewujudkan visi, betapa kayanya negeri ini.
Pengharapan jika bisa dilihat, namanya bukan pengharapan. Tapi pengharapan adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat sehingga kita mau menanti-nantikannya dengan ketekunan. Masih tetep yakin bangsa ini punya orang2 yang punya visi untuk bangun bangsa, punya visi untuk rakyat, mau melayani kepentingan publik demi suatu pengharapan bahwa kebangkitan besar ada bagi bangsa ini.
...Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun... Roma 8:24-25
Yap, si supir dan kernet bis kopaja.
Mereka emang terlihat ugal-ugalan. Si supir bawa bis-nya gak pake etika. Si supir mulutnya yang gak beretika. 2'2nya emang perlu sekolah mengemudi. Dan sekolah mengemudi perlu menambah kurikulum etika mengendarai kendaraan. haha!
Anyway, kalo diperati-peratiin, mereka adalah contoh kerja tim yang baik.
1. Kalau lagi macet, si supir teriak ke kernet. Bertanya macetnya separah apa. Si kernet ngeliatin dan dia jadi penentu bagi supir untuk cari jalan lain atau tetep bertahan di jalur tersebut. --> kerjasama untuk mengantar penumpang lebih cepat daripada terjebak macet
2. Kalau penumpang ada yang mo turun, si kernet ngetok2in duit receh ke kaca, either ke besi gantungan tangan, untuk ngasih kode berenti ke si supir. --> kerjasama supaya penumpang turun tepat di tempat yang dimintanya
3. Kalau bis-nya error di tanjakan, si kernet yang lari2 nyari batu gede untuk nahan itu mobil dan si supir berusaha meng-gas di gigi 1 untuk tancap di tanjakan --> kerjasama biar nyawa orang gak melayang
Intinya tiap pekerjaan gak bisa dikerjain sendirian. We need partner. Kalaupun pekerjaan kita kesannya bisa dikerjakan oleh diri sendiri, tapi tetep butuh orang lain untuk makin memperindahnya. Dan mereka punya tujuan. Mereka punya visi.
Pun bangsa ini butuh orang2 yang bekerja sama untuk membangun negeri. Kita butuh orang yang membangun demi keindahan bangsa. Demi keindahan negeri. Bukan untuk diri sendiri. Lihat saja si budak jalanan itu. Mereka bekerja demi orang2 yang memakai jasa mereka, bukan untuk diri mereka. Mereka mengemudi dan mengerneti (sori, gak ada istilah yang pas!) agar penumpang sampai tujuan. Itu intinya: agar penumpang sampai tujuan. That's their vission.
Seandainya setiap pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini punya visi, alangkah bahagianya orang2 yang perlu ditolong itu. Dan seandainya setiap pemimpin dan calon pemimpin itu mau untuk bekerja sama untuk mewujudkan visi, betapa kayanya negeri ini.
Pengharapan jika bisa dilihat, namanya bukan pengharapan. Tapi pengharapan adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat sehingga kita mau menanti-nantikannya dengan ketekunan. Masih tetep yakin bangsa ini punya orang2 yang punya visi untuk bangun bangsa, punya visi untuk rakyat, mau melayani kepentingan publik demi suatu pengharapan bahwa kebangkitan besar ada bagi bangsa ini.
...Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun... Roma 8:24-25
Menanti Datangnya 17.00 WIB
kaki sudah menahan hentakannya untuk berjalan.
mata sudah menahan sinarnya untuk berbinar.
bibir sudah mengatup sekian lama dan ingin melepaskan kekangnya.
otot sudah menggebuk2 tulang supaya bergerak!
hai matahari, cepatlah berputar.
*menanti jam 17.00*.
mata sudah menahan sinarnya untuk berbinar.
bibir sudah mengatup sekian lama dan ingin melepaskan kekangnya.
otot sudah menggebuk2 tulang supaya bergerak!
hai matahari, cepatlah berputar.
*menanti jam 17.00*.
Gorengan Ikan Tuna
Kenapa judulnya harus gorengan ikan tuna?
Ya semau saya dong, haha!
Bukan begitu..Karena seingat saya sewaktu belajar bahasa di sekolah dulu, ada istilah DM & MD a.k.a diterangkan-menerangkan atau menerangkan diterangkan. Nah, beranjak dari situ, penekanan saya bukan pada hasilnya, yaitu ikan tuna goreng tapi kegiatannya, yaitu menggorengnya.
Ahh, kelamaan. Intinya saya mo bikin judul yang gak biasa. Walopun ini biasa aja. haha! Mau lo apa sih de???
Yahh, waktu itu saya menggoreng 4 buah ikan tuna, untuk santap siang. Saya memasukkannya bersamaan. Tapi yang mengherankan, matengnya tidak bersamaan. Hehe!
Tiba2 langsung kepikiran aja, mungkin pun kita menjadi seseorang yang matang butuh waktu yang berbeda-beda. Seperti ikan-ikan tuna tadi. Walaupun 'dicemplunginnya' barengan, mungkin matengnya beda-beda.
Menarik bahwa si ikan tuna digoreng supaya matang. Lalu manusia diapain ya supaya matang? Bisa saja minyaknya adalah tantangan, kegagalan, ketidaksesuaian keinginan kita dengan Gusti Allah, kesedihan, musuh, dan semuanya. Lalu penggorengannya bisa saja sekolah, kampus, kantor, dengan teman se-gank, dll. Intinya ternyata manusia juga digoreng agar matang. Agar siap di-'nikmati' oleh sang 'penikmat', siapapun itu.
Dan penikmat itu bisa siapapun juga. Bisa saja dia calon suami/istrimu. Bisa saja dia calon bosmu. Bisa saja dia calon penantangmu, dll.
Dan yang pasti, 'penikmat' itu adalah Tuhanmu.
Ya, Dia mengingini kita menjadi matang dengan segala minyak dan penggorengan yang sudah Dia sediakan. Tujuannya satu, agar hatiNya bersuka. Ya, apalagi yang diminta jika bukan kita menyukakan hatiNya? Tidak ada. Tugas kita hanyalah bertahan dalam minyak kita masing2 dan penggorengannya. Sip itu dia!
Udah ah...
Udah ketauan gue ngerjain yang nggak2 pas jam kerja!
Hehe ;) .. jangan ditiru!
C U Next!
The Battle is The Lord's...(1 Sam 17)
Ya semau saya dong, haha!
Bukan begitu..Karena seingat saya sewaktu belajar bahasa di sekolah dulu, ada istilah DM & MD a.k.a diterangkan-menerangkan atau menerangkan diterangkan. Nah, beranjak dari situ, penekanan saya bukan pada hasilnya, yaitu ikan tuna goreng tapi kegiatannya, yaitu menggorengnya.
Ahh, kelamaan. Intinya saya mo bikin judul yang gak biasa. Walopun ini biasa aja. haha! Mau lo apa sih de???
Yahh, waktu itu saya menggoreng 4 buah ikan tuna, untuk santap siang. Saya memasukkannya bersamaan. Tapi yang mengherankan, matengnya tidak bersamaan. Hehe!
Tiba2 langsung kepikiran aja, mungkin pun kita menjadi seseorang yang matang butuh waktu yang berbeda-beda. Seperti ikan-ikan tuna tadi. Walaupun 'dicemplunginnya' barengan, mungkin matengnya beda-beda.
Menarik bahwa si ikan tuna digoreng supaya matang. Lalu manusia diapain ya supaya matang? Bisa saja minyaknya adalah tantangan, kegagalan, ketidaksesuaian keinginan kita dengan Gusti Allah, kesedihan, musuh, dan semuanya. Lalu penggorengannya bisa saja sekolah, kampus, kantor, dengan teman se-gank, dll. Intinya ternyata manusia juga digoreng agar matang. Agar siap di-'nikmati' oleh sang 'penikmat', siapapun itu.
Dan penikmat itu bisa siapapun juga. Bisa saja dia calon suami/istrimu. Bisa saja dia calon bosmu. Bisa saja dia calon penantangmu, dll.
Dan yang pasti, 'penikmat' itu adalah Tuhanmu.
Ya, Dia mengingini kita menjadi matang dengan segala minyak dan penggorengan yang sudah Dia sediakan. Tujuannya satu, agar hatiNya bersuka. Ya, apalagi yang diminta jika bukan kita menyukakan hatiNya? Tidak ada. Tugas kita hanyalah bertahan dalam minyak kita masing2 dan penggorengannya. Sip itu dia!
Udah ah...
Udah ketauan gue ngerjain yang nggak2 pas jam kerja!
Hehe ;) .. jangan ditiru!
C U Next!
The Battle is The Lord's...(1 Sam 17)
Memulai dunia ini
Salam!
Yah, sebenarnya sih gak baru-baru amat make blog. Cuman males aja nulisnya. Berhubung akses internet dilarang di rumah maupun di kantor. Haha! Alasan saja! Intinya, saya mau kembali menulis! Apapun itu.
Yah, sebenarnya sih gak baru-baru amat make blog. Cuman males aja nulisnya. Berhubung akses internet dilarang di rumah maupun di kantor. Haha! Alasan saja! Intinya, saya mau kembali menulis! Apapun itu.


