Pulang dari kantor, bawaannya pengen muntah. Masuk angin karena telat makan. Belum lagi cuaca yang amat panas. Kereta penuh dan ACnya mampet alias menyala kecil. Rasanya lengkaplah penderitaanku hari itu. Sampai di rumah perasaanku amat lega. Bisa melihat kenyamanan dan yang terutama tempat tidurku yang nyaman! Tapi bukan itu yang membuatku amat bersukacita. Kehadiran mama yang bawel ternyata membuatku bersukacita, haha... Lagi dan lagi dia terus bertanya tentang bagaimana perjalanan hari ini. Kuceritakanlah kejadian fotografi CCF itu. Dan dia pun hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Untung saja dia tidak menertawakanku apalagi mengungkit sesuatu yang sudah tak bisa diulang. Kalau iya, tentu saja tidak ada tulisan ini.
Setelah diskusi sana-sini akhirnya kami sepakat agar untuk sarapan dan makan siang sebaiknya dibawa dari rumah. Dia meyuruhku membeli bahan-bahannya supaya besok pagi dimasak.
Sebelum tidur, dia bertanya kenapa di salah satu amplop di mejaku ada uang Rp 50.000,-? Hah? Sejak kapan ada duit kutaro di amplop, 50.000,- pula? Dia bilang itu amplop trainer FIB. Masyaoloh! Kenapa dikasih duit dah? Padahal waktu aku jadi trainer MC di FIB aku sudah dapat buku notes. Belum lagi aku waktu mahasiswa tidak terbiasa memberi uang kepada trainer yang adalah alumni profesional. Kalau dia fulltimer tentu akan dikasih. Aku pun bertanya-tanya, benarkah duit itu pemberian FIB ataukah itu uangku yang terselip. Walaupun aku merasa tidak pernah kehilangan uang sebesar itu. Wah tapi bersyukur sekali mendapat uang nyelip karena memang sedang kacau-kacaunya keuanganku.
Aku pergi tidur setelahnya namun tak lupa mengucap syukur.
Pagi hari aku terbangun sebelum alarmku menyalak. Kudengar mamaku sudah bangun. Kompor dinyalakan dan terdengar bunyi pisau bersentuhan dengan kayu talenan. Dan itu jam 04.30 pagi. Dalam hati aku bertanya-tanya. Semangat sekali dia? Lalu aku keluar kamar dan menyusulnya ke dapur. Kulihat dapur sedang “ngebul”. Kompor penuh dan meja-meja di dapur terisi potongan-potongan sayuran. Seperti biasa, aku hanya menyapanya dan memukul pantatnya yang masih kencang itu. Lalu pergi mandi namun rasanya hati ini ingin meledak karena melihat pengorbanannya.
23 tahun hidup rasanya baru hari ini mataku memandang pengorbanan mama itu luar biasa besarnya. Tiap pagi dengan setia dia membangunkan seisi rumah, memasak, dan bawel. Ya Tuhan, mungkin jika tidak ada dia betapa hancurnya aku hari ini. Mana mungkin aku bisa bangun lebih pagi untuk memasak makan pagi dan bekal makan siangku. Yang ada aku terlambat kerja atau aku menghabiskan gajiku hanya untuk membeli makanan untuk 3 kali makan. Baru kali ini aku merasa amat besar sekali perjuangan seorang ibu bagi anaknya. Apalagi kalau anaknya ini nakal sekali. Suka sekali berargumen.
23 tahun dia melayani aku dan 25 tahun melayani kakakku. Tidak ada satu kata kutuk pun pernah terucap di dalam ketidaksabarannya. Padahal yang kutahu dia mudah sekali marah. Aku hanya bisa diam dan bersyukur dalam doaku di angkot menuju stasiun. Dalamnya kasih orang tua memang tak pernah bisa ditandingi oleh siapapun kecuali Kristus itu sendiri.
Pagi itu aku bersyukur karena kasih Allah tidak lepas dariku. Di mulai dari ketemu duit nyelip, menikmati kasih keluargaku. Di tengah kekhawatiran akan kekurangan, Allah cukupkan. Aku bersyukur karena dengan caraNya yang ajaib, Allah menjawab doaku. Terkhusus untuk keluargaku, aku bersyukur karena tiap bangun pagi, aku bisa mendengar desahan papa yang sedang tai-chi, berisiknya suara kakakku, dan yang paling spesial mamaku yang berdiri tegap di dapur serta nenek ribu yang masih membuka mata serta bernafas walaupun sudah tak sanggup mengurus dirinya sendiri. Aku bersyukur karena keberadaan mereka membuatku mengerti bahwa kasih Allah nyata dalam keluargaku. Allah masih memberikan aku kesempatan untuk melayani mereka.
Benar jika akhirnya dalam sebuah pembinaan, seorang pembicara berkata adalah sia-sia bersedih ketika seorang yang kau kasihi meninggal. Bersedih karena belum sempat melayaninya. Ketika sudah meninggal, apa yang bisa kita lakukan bagi dia? Tidak ada selain penyesalan. Ada baiknya layanilah orang tuamu. Tidakkah kau perhatikan kerutan itu makin kentara di dahi dan lekuk senyumnya? Tidakkah kau perhatikan kelopak matanya semakin menurun? Tidakkah kau perhatikan kulit tubuhnya makin mengerut, tidak elastis? Tidakkah kau sadar, dia semakin menuju waktunya Tuhan? Masihkah terus kau akan menunda untuk menunjukan kasihmu padanya?
Rabu, 05 Mei 2010
Selasa, 04 Mei 2010
Pembelajaran Hari 1
Kemarin adalah hari pertama aku liputan dan membuat berita. Redakturku bilang: “nanti kamu langsung aja ya ke sini (pameran fotografi).” Setelah menyelesaikan tugas terjemahan, aku langsung pergi. Aku pergi seperti halnya maling—tidak bilang siapa-siapa. Aku pergi ke galeri nasional, tempat yang tertulis di brosur yang diberikan redakturku. Cuaca amat panas! Tidak terbayang sepanas apa neraka. Siang kemarin membuatku tidak mampu tersenyum sedikitpun. Aku sampai dan jengjeng...! Tidak ada pameran fotografi. Yang ada hanyalah pameran instalasi yang sudah berlangsung 1 minggu. Penjaga pameran itu berkata, “ya mbak pameran fotografinya di taman ayodya, barito, blok M.” Dengan amat meyakinkan mereka pun menunjukan booklet yang memperlihatkan alamat pameran fotografi itu. Oke kalau begitu, aku pergi ke sana.
Perjalanan Gambir-Blok M sungguh panjang. Dan aku belum makan siang. Ditambah makan pagi yang sudah terlambat. Sesampainya di taman ayodya, perasaanku tidak enak. Kok tamannya sepi sekali? Akhirnya dengan langkah gontai aku berjalan menuju satu pendopo yang sedang ditongkrongi oleh beberapa orang. Mereka bertanya mencari siapa. Aku bilang aku sedang mencari pameran. Mereka bilang tidak ada. Dari kemarin juga tidak ada. Nyeeesss!!! Rasanya ingin marah dan mencabik-cabik orang2 CCF tersebut. Apalagi ketika aku mencoba mengonfirmasi mereka bahkan menyebutkan kalau pamerannya di geleri nasional. Bah!! Macam apa itu!? Lalu aku bilang lagi tidak ada di galeri nasional. Orang sana bilang di taman ayodya. Lalu pihak CCF itu bilang: “oh ya berarti di sana.” Ya menurut loooo??!! Aku bilang lagi kalau aku sudah ada di ayodya tapi tidak ada. Si penerima telepon tadi gelagapan dan tidak tahu harus bilang apa. Dia menyuruhku menunggu sejenak dan akhirnya telah dipastikan bahwa pamerannya ada di kedubes Prancis, persis di samping Sarinah! SIHALL!!!!
Bilang kek dari awal kalau di kedubes. Kan gak perlu muter-muter sejauh itu! Akhirnya aku menuju kedubes dan memang ada pameran foto-fotonya tapi tak seorang pun ada di tempat itu untuk bisa kumintai keterangan. Bahkan satpam-satpam yang berjaga-jaga pun tak tahu menahu soal keberadaan foto-foto tersebut.
Setelah makan aku kembali ke kantor. Ternyata redakturku itu mencari aku untuk bilang kalau pamerannya belum mendapat konfirmasi untuk tempat pastinya. Jiaaaahhh...kenapa nggak telpon aja dah tadi. Toh nomer hpku udah di sekretaris redaksi. Ah tapi ya sudahlah. Pembelajaran hari pertama.
1.jangan pernah keluar kantor tanpa memberitahu redakturmu
2.selalu in contact sama redakturmu kalau-kalau tidak jadi acara tersebut
3.BAWA MAKAN DARI RUMAH untuk menghindari jajan di luar dan makanan tak sehat
4.pake masker dan cardigan untuk mengurangi terpaan debu dan panas
5.wajib punya kertas minyak serta tissue (kering dan basah)
Perjalanan Gambir-Blok M sungguh panjang. Dan aku belum makan siang. Ditambah makan pagi yang sudah terlambat. Sesampainya di taman ayodya, perasaanku tidak enak. Kok tamannya sepi sekali? Akhirnya dengan langkah gontai aku berjalan menuju satu pendopo yang sedang ditongkrongi oleh beberapa orang. Mereka bertanya mencari siapa. Aku bilang aku sedang mencari pameran. Mereka bilang tidak ada. Dari kemarin juga tidak ada. Nyeeesss!!! Rasanya ingin marah dan mencabik-cabik orang2 CCF tersebut. Apalagi ketika aku mencoba mengonfirmasi mereka bahkan menyebutkan kalau pamerannya di geleri nasional. Bah!! Macam apa itu!? Lalu aku bilang lagi tidak ada di galeri nasional. Orang sana bilang di taman ayodya. Lalu pihak CCF itu bilang: “oh ya berarti di sana.” Ya menurut loooo??!! Aku bilang lagi kalau aku sudah ada di ayodya tapi tidak ada. Si penerima telepon tadi gelagapan dan tidak tahu harus bilang apa. Dia menyuruhku menunggu sejenak dan akhirnya telah dipastikan bahwa pamerannya ada di kedubes Prancis, persis di samping Sarinah! SIHALL!!!!
Bilang kek dari awal kalau di kedubes. Kan gak perlu muter-muter sejauh itu! Akhirnya aku menuju kedubes dan memang ada pameran foto-fotonya tapi tak seorang pun ada di tempat itu untuk bisa kumintai keterangan. Bahkan satpam-satpam yang berjaga-jaga pun tak tahu menahu soal keberadaan foto-foto tersebut.
Setelah makan aku kembali ke kantor. Ternyata redakturku itu mencari aku untuk bilang kalau pamerannya belum mendapat konfirmasi untuk tempat pastinya. Jiaaaahhh...kenapa nggak telpon aja dah tadi. Toh nomer hpku udah di sekretaris redaksi. Ah tapi ya sudahlah. Pembelajaran hari pertama.
1.jangan pernah keluar kantor tanpa memberitahu redakturmu
2.selalu in contact sama redakturmu kalau-kalau tidak jadi acara tersebut
3.BAWA MAKAN DARI RUMAH untuk menghindari jajan di luar dan makanan tak sehat
4.pake masker dan cardigan untuk mengurangi terpaan debu dan panas
5.wajib punya kertas minyak serta tissue (kering dan basah)


