Rabu, 05 Mei 2010

Dia Semakin Tua

Pulang dari kantor, bawaannya pengen muntah. Masuk angin karena telat makan. Belum lagi cuaca yang amat panas. Kereta penuh dan ACnya mampet alias menyala kecil. Rasanya lengkaplah penderitaanku hari itu. Sampai di rumah perasaanku amat lega. Bisa melihat kenyamanan dan yang terutama tempat tidurku yang nyaman! Tapi bukan itu yang membuatku amat bersukacita. Kehadiran mama yang bawel ternyata membuatku bersukacita, haha... Lagi dan lagi dia terus bertanya tentang bagaimana perjalanan hari ini. Kuceritakanlah kejadian fotografi CCF itu. Dan dia pun hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Untung saja dia tidak menertawakanku apalagi mengungkit sesuatu yang sudah tak bisa diulang. Kalau iya, tentu saja tidak ada tulisan ini.
Setelah diskusi sana-sini akhirnya kami sepakat agar untuk sarapan dan makan siang sebaiknya dibawa dari rumah. Dia meyuruhku membeli bahan-bahannya supaya besok pagi dimasak.

Sebelum tidur, dia bertanya kenapa di salah satu amplop di mejaku ada uang Rp 50.000,-? Hah? Sejak kapan ada duit kutaro di amplop, 50.000,- pula? Dia bilang itu amplop trainer FIB. Masyaoloh! Kenapa dikasih duit dah? Padahal waktu aku jadi trainer MC di FIB aku sudah dapat buku notes. Belum lagi aku waktu mahasiswa tidak terbiasa memberi uang kepada trainer yang adalah alumni profesional. Kalau dia fulltimer tentu akan dikasih. Aku pun bertanya-tanya, benarkah duit itu pemberian FIB ataukah itu uangku yang terselip. Walaupun aku merasa tidak pernah kehilangan uang sebesar itu. Wah tapi bersyukur sekali mendapat uang nyelip karena memang sedang kacau-kacaunya keuanganku.

Aku pergi tidur setelahnya namun tak lupa mengucap syukur.

Pagi hari aku terbangun sebelum alarmku menyalak. Kudengar mamaku sudah bangun. Kompor dinyalakan dan terdengar bunyi pisau bersentuhan dengan kayu talenan. Dan itu jam 04.30 pagi. Dalam hati aku bertanya-tanya. Semangat sekali dia? Lalu aku keluar kamar dan menyusulnya ke dapur. Kulihat dapur sedang “ngebul”. Kompor penuh dan meja-meja di dapur terisi potongan-potongan sayuran. Seperti biasa, aku hanya menyapanya dan memukul pantatnya yang masih kencang itu. Lalu pergi mandi namun rasanya hati ini ingin meledak karena melihat pengorbanannya.

23 tahun hidup rasanya baru hari ini mataku memandang pengorbanan mama itu luar biasa besarnya. Tiap pagi dengan setia dia membangunkan seisi rumah, memasak, dan bawel. Ya Tuhan, mungkin jika tidak ada dia betapa hancurnya aku hari ini. Mana mungkin aku bisa bangun lebih pagi untuk memasak makan pagi dan bekal makan siangku. Yang ada aku terlambat kerja atau aku menghabiskan gajiku hanya untuk membeli makanan untuk 3 kali makan. Baru kali ini aku merasa amat besar sekali perjuangan seorang ibu bagi anaknya. Apalagi kalau anaknya ini nakal sekali. Suka sekali berargumen.


23 tahun dia melayani aku dan 25 tahun melayani kakakku. Tidak ada satu kata kutuk pun pernah terucap di dalam ketidaksabarannya. Padahal yang kutahu dia mudah sekali marah. Aku hanya bisa diam dan bersyukur dalam doaku di angkot menuju stasiun. Dalamnya kasih orang tua memang tak pernah bisa ditandingi oleh siapapun kecuali Kristus itu sendiri.

Pagi itu aku bersyukur karena kasih Allah tidak lepas dariku. Di mulai dari ketemu duit nyelip, menikmati kasih keluargaku. Di tengah kekhawatiran akan kekurangan, Allah cukupkan. Aku bersyukur karena dengan caraNya yang ajaib, Allah menjawab doaku. Terkhusus untuk keluargaku, aku bersyukur karena tiap bangun pagi, aku bisa mendengar desahan papa yang sedang tai-chi, berisiknya suara kakakku, dan yang paling spesial mamaku yang berdiri tegap di dapur serta nenek ribu yang masih membuka mata serta bernafas walaupun sudah tak sanggup mengurus dirinya sendiri. Aku bersyukur karena keberadaan mereka membuatku mengerti bahwa kasih Allah nyata dalam keluargaku. Allah masih memberikan aku kesempatan untuk melayani mereka.

Benar jika akhirnya dalam sebuah pembinaan, seorang pembicara berkata adalah sia-sia bersedih ketika seorang yang kau kasihi meninggal. Bersedih karena belum sempat melayaninya. Ketika sudah meninggal, apa yang bisa kita lakukan bagi dia? Tidak ada selain penyesalan. Ada baiknya layanilah orang tuamu. Tidakkah kau perhatikan kerutan itu makin kentara di dahi dan lekuk senyumnya? Tidakkah kau perhatikan kelopak matanya semakin menurun? Tidakkah kau perhatikan kulit tubuhnya makin mengerut, tidak elastis? Tidakkah kau sadar, dia semakin menuju waktunya Tuhan? Masihkah terus kau akan menunda untuk menunjukan kasihmu padanya?

0 komentar:

Posting Komentar