6 September 2010
Pagi tadi, otak seolah tidak mau memberikan perintah kepada seluruh tubuh untuk bangun. Alhasil, hari ini aku bangun jam 11.00.
Tidak datang ke kantor dan membatalkan sebuah janji di pagi hari. Baru saja membuka mata, rasanya ada yang kurang. Biasanya tiap pagi aku didera urgensi untuk mengingatkan pelayan KKSJ tentang latihan ataupun koordinasi dengan teman2 sie acara. Tapi kali ini tidak. Rasanya ada yang kurang. Ada yang hilang. Rasa-rasanya aku kehilangan gairah hidup. Sepertinya takut bahwa aku tidak akan menemukan sukacita yang sama ketika aku terlibat dalam sebuah pelayanan. Ah, apalah itu, pikirku.. Lalu aku buka hari dengan doa. Meminta Tuhan menenangkan hati. Dan dengan langkah gontai menuju kamar mandi. Mandi.
Aku memulai saat teduh. Sebelum mulai, kegelisahan bangun tidur tadi kembali menyeruak. Tanpa sadar, air mata turun. Rasa kehilangan itu benar-benar menusuk. Aku merasa kehilangan semangat, kehilangan sahabat, kehilangan pekerjaan yang mendatangkan sukacita. Aku takut kehilangan sahabat-sahabat baru, aku takut tidak lagi bisa menikmati pelayanan yang sama sukacitanya dengan yang pernah aku alami. Intinya aku takut maju melangkah dalam masa yang baru. Pasca KKSJ, apa yang harus ku kerjakan, aku tidak tahu. Aku seperti kehilangan arah.
Dalam doaku, aku meminta Allah menenangkan jiwa ini dan memulai saat teduh. Firman hari ini menjawabnya. Belajar dari tokoh Ezra yang dikatakan berhasil dalam segala hal karena tangan Allah menyertai dia. Bagiku ini adalah jawaban. Aku yang seperti kehilangan semangat, kembali dikuatkan. Aku didorong untuk meyakini bahwa tangan kanan Allah yang kuat itu akan menopang, memegang, dan menuntunku ke suatu jalan yang baru dimana rencanaNya atas hidupku harus tergenapi. Dan akhirnya terkuaklah ternyata ada begitu banyak hal yang kutinggalkan saat mempersiapkan KKSJ. Itu semua perlu kembali ku doakan, ku pikirkan, dan ku perjuangkan.
Manusia memang menyenangi momentum dan rasanya ketika momentum berkesan itu hilang, rasa kehampaan menyeruak. Kita akan mungkin kehilangan momen-momen menyenangkan itu, tapi kita tidak sepenuhnya kehilangan. Kita hanya perlu berjuang lebih untuk menikmati hal yang sama. Momen berharga dengan teman2 panitia, khususnya sie acara adalah hal yang kurindukan itu. Kita harus tetap jalan2 ya abang2 skalian, hahaha...
Kita adalah manusia yang terus bergerak dinamis. Selesai dengan yang satu, maka harus memulai dengan yang baru. Ketakutan untuk melangkah di masa yang baru adalah saat dimana aku merenung untuk belajar merendahkan hati tetap setia mengandalkan Dia. Mari melangkah dalam iman.



0 komentar:
Posting Komentar