Senin, 27 Desember 2010

si kecil untuk Si Besar

Memang manusia tidak pernah tahu akan masa depannya. Namun dia harus tetap melangkah maju. Seringkali rasa khawatir menyertai dia saat melangkah. Memasuki bulan desember ini aku mengalami hal tersebut. Walaupun sudah sangat paham bahwa Tuhan menjamin masa depan saya, seringkali saya gagal untuk menghidupinya. Bahkan walaupun sudah berulang-ulang menghadapi kenyataan hidup akibat ketidak taatan ataupun ketaatan, tetap saya kembali merasa gamang akan janji Allah tersebut.

Demi menekan rasa khawatir ini, saya patut bersyukur bahwa doa dan firman adalah senjata utama yang masih diingatkan Allah untuk digunakan. Namun seringkali tidak puas. Seringkali bertanya, Tuhan kenapa sih menjelang natal ini kotbah/bahan saat teduh yang aku terima 'cuman' latar sejarah kelahiran Yesus? Tuhan gak liat betapa tertekannya aku dengan masalah yg sedang kuhadapi ini?? Ya, saya menggugat! Saya meminta lebih. Saya tidak puas. Saya tidak sabar. Sampai satu ketika dalam sebuah perenungan singkat yang belum teruji kepastiannya, saya menyimpulkan sesuatu.

Maria, ibu Yesus, hanyalah wanita sederhana yang taat. Dia dipilih Allah tanpa perlu mendesak Allah untuk mendapatkan jawaban tentang mengapa aku. Dia tetap jalani bagiannya walaupun sadar dia akan mengalami hujatan dan pengucilan dari sekitarnya. Siapa pula yang tidak berpikir negatif akan seorang wanita yang sudah bertunangan dan hamil sebelum menikah? Lalu Yusuf, pria mana yang tidak akan seketika itu juga merasa dikhianati saat tahu calon istrinya hamil bukan olehnya. Di tengah pemberontakan hatinya, Allah menguatkannya untuk tetap menikahi Maria. Dan lihat, dia taat. Mereka berdua harus menanggung malu yang ditudingkan oleh manusia kepada mereka. Namun indahnya, alkitab tidak mencatat satupun pemberontakan hati mereka.

Ketika harus melahirkan, Maria dan Yusuf hanya mendapatkan kandang domba yang bau dan hina. Mereka tahu bahwa mereka akan mendapatkan anak yang spesial, lain dari yang lain, Mulia. Mereka pantas menggugat dan meminta Allah untuk memberikan tempat yang lebih layak. Namun sekali lagi alkitab tidak mencatat pemberontakan itu. Mereka diam dan ikut dengan apa yang sudah Tuhan tetapkan bagi mereka: melahirkan di kandang domba.

Lalu para gembala. Mengapa Allah pakai mereka? Dan akhirnya orang-orang majus. Ketaatan gembala untuk datang menjadi saksi bagi kelahiran Yesus serta ketaatan orang majus untuk pulang tidak melalui jalan yang sama, adalah bagian dari rencana besar Allah bagi dunia.

Mereka terlihat kecil namun tanpa ketaatan mereka, dunia akan kehilangan satu cerita penting soal ketaatan manusia dalam menjalankan bagian demi kemuliaan Allah.

Kesimpulan yang tak teruji itu akhirnya terbukti di hari natalku. Saat teduh hari itu mengukuhkan apa yang selama ini berputar-putar di pikiran saya. Benarlah bahwa Tuhan meminta saya seperti Maria dan Yusuf untuk taat kepada kehendakNya. Siapa yang tahu bahwa mungkin pergumulan saat ini hanyalah bagian kecil dari sebuah rencana agung dalam hidup saya? Ya, nobody knows. Tinggal bagaimana saya harus berjalan dalam iman demi kemuliaanNya nyata dalam hidup saya.

Sungguh ini tidak mudah. Hidup dalam ketidakpastian, hidup dalam tekanan dunia, hidup dalam ketakutan, siapa yang mau berlama-lama disini? Lihat saya, baru saja dikuatkan malah meragukan. Dan inilah Allah yang penuh kasih itu: pagi ini saya menikmati saat teduh dari yakobus, tentang pelaku firman. Dia tidak tinggal diam saat melihat saya dengan mudahnya ragu melangkah dalam iman. Dia menegur sebelum saya benar-benar kehilangan iman. Ketaatan adalah hal yang Dia minta saat ini untuk menjalani hal yang amat menyusahkan hati ini.

Taat untuk tidak khawatir. Taat untuk tidak ragu bahwa Dia menjamin masa depan yang penuh sukacita. Taat untuk tidak memaksakan kehendak saya. Taat untuk tidak menghabiskan pikiran saya untuk sesuatu yang membuat saya kehilangan ucapan syukur. Taat untuk tidak menjadi hakim bagi pergumulan saya.

Natal ini, Kristus lahir bukan hanya mengajarkan saya tentang kasihNya yang tiada terukur itu. Dia mengajarkan soal ketaatan manusia biasa seperti aku dan kamu. Namun yang kuyakini, itu adalah perkenalan pertama akan sebuah teladan ketaatan yang agung dari Kristus Yesus, Tuhan kita.

This christmas, praise, praise, o praise Him!!

0 komentar:

Posting Komentar