Kamis, 08 April 2010

Menghakimi?

Apa yang dimaksud menghakimi? Saya, yang bukan seorang sarjana hukum, mencoba untuk memahami kata itu sebagai suatu pemisahan ataupun penetapan atas sesuatu untuk menimpa seseorang.

Kamu jelek, Dia memesona
Kamu bodoh, Dia cerdas
Kamu miskin, Dia kaya
Kamu malang, Dia hoki
Kamu jahat, Dia baik


Amat malanglah semua manusia jika manusia-manusia juga yang mengadakan pemisahan itu. Apakah Anda sudah cukup memesona sehingga bisa memandang orang lain jelek? Apakah Anda sucah cukup cerdas sehingga berani berkata orang itu bodoh? Apakah Anda sudah cukup kaya sehingga bisa berbelaskasihan kepada orang yang terlihat miskin? (lagian apa sih indikator kemiskinan?). Dan apakah Anda sudah cukup baik untuk menyebut kejahatan itu seperi ana dan anu...

Dengan apa seorang manusia melakukan penghakiman? Siapakah manusia (Anda dan saya) sehingga bisa memberikan pembeda seperti yang di atas? Dasar apakah yang manusia pakai untuk menunjukan ini bermoral dan itu tidak? Bukankah manusia itu naturnya berdosa? Kalau begitu, bukankah pemisahan itu akhirnya tidak murni untuk suatu kebaikan?

Manusia sudah jatuh dalam dosa dan selamanya tidak akan memiliki kemurnian apapun saat memandang sesuatu. Manusia akan bias. Kebiasan itu dipengaruhi oleh ajaran dan pengajar yang dia gemari. Seorang pemuda kulit putih akan menganggap pemudi kulit sawo matang sangat eksotis. Tapi bagi seorang pemuda kulit sawo matang cenderung terbakar, wanita berkulit putih dan langsatlah yang eksotis (bahkan cenderung ke arah sempurna). Kalau sudah begini, tentu tidak ada yang benar... Tidak ada satu paham pun yang bisa diutamakan untuk dipakai sebagai patokan dalam memandang suatu keeksotisan seorang wanita (sebagai contoh).

Tapi bumi ini perlu sesuatu yang dipakai untuk menghakimi. Jika tidak, betapa kacau balaunya bumi ini. Lalu dasar apa yang harus dipakai? Ya kalau begitu sudah pasti yang mampu dan tepat untuk melakukan penghakiman adalah Allah itu sendiri...

Dunia ini hanya bisa diatur oleh kebenaran Allah. Hukum Allah. Namun negeri ini berhaluan republik. Negara hukum, bukan Teokrasi. Kalau begini gimana dong?

Menurut saya, manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ini punya kelebihan unik dibanding ciptaanNya yang lain. Maka keunikan inilah yang mendorong kita seharusnya untuk mengejewantahkan bentuk-bentuk hukum Allah itu untuk membuat peraturan di bumi ini. Bukan demi keuntungan penguasa, tapi demi keuntungan tiap manusia untuk suatu kehidupan yang lebih baik. Dan untuk kehidupan habitat manusia yang lebih layak.

Maka dari itu apakah kita boleh menghakimi? Boleh! Tapi ingat, bukan dengan ukuran kita, tapi dengan ukuran Allah. Jika Allah tidak melakukan pengukuran (pemisahan) terhadap orang kaya/miskin, cantik/buruk rupa, serta pintar/cerdas, ya jangan coba-coba lakukan itu.

Back to Bible, langkah terbaik untuk hidup yang berkenan di hadapanNya.

0 komentar:

Posting Komentar